Kamis, 29 Desember 2011

Misa Natal 2011, gereja paroki Ganjuran, Bantul, Jogja

Beberapa waktu lalu, bertepatan dengan Misa Natal, saya bersama Prasetya Yudha Dwi Sambodo bertandang ke Ganjuran, salah satu gereja paroki bergaya unik dengan arsitektur jawa punya dan terbuka di kawasan Bantul, Jogja. Gereja paroki yang dipimpin oleh pastur atau romo ini memiliki sisi realigius yang pekat, selain dari arsitekturnya yang banyak bunda Maria (perawan Maria), juga telah dipersiapkan goa natal dari panitia khusus untuk pesta natal ini.

Pagi itu saya clingak-clinguk nggak jelas mau gimana. Bayangin aja, saya menjadi POI (Point Of Interest) dengan kerudung menempel disebagian tubuh. Awalnya malah saya berpikiran negatif, takut mereka mengira saya terorist, hahaa.. Selama masih ada papa, saya juga ikut meramaikan natal bersama keluarga papa yang semuanya berbudaya China dan  beragama non muslim, tapi untuk ritual misa-nya baru kali itu. "Pagi ini misa natal khusus anak-anak, yang dewasa sudah kemarin sore jam 4 untuk yang bahasa Jawa, dan jam 8 malam untuk yang bahasa Indonesia", ungkap Agustinus Suryo Nugroho, salah satu panitia acara tersebut yang menghampiri saya tiba-tiba. Saya yang kaget tiba-tiba dihampiri dan ditanya darimana tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengetahui lebih tentang prosesi sakral yang biasa disebut Ekaristi ini. Perayaan ini juga dimeriahkan drama teatrikal oleh adik-adik dari panti asuhan Santa Maria, yang berjudul "Amen dan Tiga Raja".

Agustinus juga menjelaskan untuk acara misa seperti ini, di seluruh dunia akan sama mulai awal acara, doa, serta tata caranya, karena ternyata sudah ada buku yang menjelaskan semuanya. "Mau kita natal di Arab pun dengan bahasa Arab, tetap saja artinya sama dan tata caranya sama", imbuhnya. Natal kali ini bertema "Tinggal Dalam Kristus Memiliki Terang Hidup".

Misa natal tahun ini gereja katholik Ganjuran dipimpin oleh pastur Agustinus Suryo Nugroho pr, yang kebetulan memiliki nama yang sama dengan salah satu panitia yang sempat saya wawancarai. Romo Ag. (singkatan dari nama baptis Agustinus) ini juga study di Mesir jurusan Islamologi. Entah bagaimana ceritanya seorang pastur mengambil jurusan yang bisa dibilang agak ekstrim, tapi tak masalah, karena bukankah semua agama mengajarkan tentang kebaikan?

Acara misa natal pun usai tepat pukul 10.00 dan ditutup oleh hujan deras dipenjuru gereja. Saya pun akhirnya memutuskan untuk menunggu hujan reda sambil melihat-lihat sebagian arsitektur gereja, dan nggak sengaja melihat mbak-mbak keluar gereja dan mampir ke sebuah penampungan air di salah satu tempat di depan gereja. Ia mengambil sebagian air kemudian membuatnya menjadi bentuk salib ke tubuhnya sambil kemudian berdoa. Mungkin semacam air suci, tapi anehnya, air itu berada di depan gereja yang pasti akan terkontaminasi air hujan, tapi yang saya lihat, air itu tenang tak bergeming, meski disentuh.

Lama menunggu hujan reda, Agustinus mendekati kami yang sedang menikmati keindahan gereja, kemudian ia mengajak kami untuk makan bersama di dalam gereja. Betapa kagetnya saya (yang memang lapar), tanpa pikir panjang kami pun mengikuti, dan tettoott, makanannya ayam goreng :( sediiihh, karena saya nggak bisa makan ayam :( selesai makan, kami memutuskan untuk menerjang hujan karena harus segera mengejar 'cerita-cerita' yang lainnya.

Ini sedikit cerita saya tentang Misa Natal pertama :D
*fotonya nyusul deh yah :D



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar