Kamis, 29 Desember 2011

Nepal dalam Matatita (Kathmandu Through My Eyes)

"Om Mani Padme Hum" adalah kalimat pertama yang saya perhatikan ketika melihat foto karya Matatita, seorang etnofotografi lulusan antropologi UGM. Kalimat tersebut merupakan mantra meditasi dengan media roda (prayer wheel). Sore tadi saya berkesempatan untuk melihat pameran foto dan mengikuti diskusi langsung bersama Matatita di Sangam, sebuah restoran kecil gaya India di KM 5,6 utara Jogja. Foto-foto Matatita diambil menggunakan kamera pocket dan kamera hape, yang ia ambil pada bulan April 2009. Ia yang bukan orang fotografi lebih suka mengambil gambar berupa living culture. Dalam perjalanan ini, ia mengumpulkan sekitar seribu jepretan atau sekitar 8gb.

Selain prayer wheel, terdapat juga foto dengan judul 'prayer flags', bendera doa yang diyakini membawa kebahagiaan, kesejahteraan, umur panjang, dan kemakmuran. Bendera ini terdiri dari 5 warna mewakili 5 elemen dasar, diantaranya kuning sebagai bumi, hijau sebagai air, merah api, putih udara, dan biru melambangkan ruang. Kelima warna tersebut dapat menyeimbangkan unsur eksternal membawa harmoni dalam lingkungan serta faktor internal yang membawa kesehatan bagi tubuh dan pikiran. #Boudhanath.

Kathmandu, sebuah kawasan dengan nama lain Nepal ini memiliki banyak kisah selain Everest dan Himalaya, salah satunya adalah terdapat stupa terbesar di dunia. Uniknya, stupa ini dibersihkan atau dimandikan tidak menggunakan air, melainkan butter (mentega) yang dilelehkan. Pertanyaannya adalah, berapa banyak mentega yang digunakan untuk memandikan stupa raksasa tersebut? Well, silahkan kalian bayangkan sendiri :D

Bhaktapur, suatu tempat dengan keunikan bangunan yang menggunakan batu-bata untuk seluruh jalanannya dan rumah-rumah dengan jendela penuh ukiran detail, serta atap-atap berwarna merah menjulang tinggi. Yaah, inilah tempat dimana keunikan lebih banyak diterangkan dalam pameran foto kolaborasi Matatita dan suaminya Eduardo A. Wibowo, yang juga menggemari etnofotografi. Di sini juga memiliki budaya yang berbeda dalam merayakan tahun baru, yang disebut Bisket Jatra / festival carriot, yaitu tarik-tarikan kereta antara dua kampung, dimana kereta yang telah disediakan ditarik ke dua arah yang berlawanan sampai pada titik yang sudah ditentukan, sehingga terlihat jelas tujuannya adalah siapa yang kuat, dialah yang menang. Setelah acara tarik-menarik kereta selesai, mereka melanjutkannya dengan lempar batu. Siapapun boleh melempar, dan yang terkena lemparan batu juga tidak boleh marah, karena ini juga bagian dari acara tersebut.

Nepal merupakan kota yang sama sekali bukan acuan untuk mencari ketenangan. Kroditnya mungkin berpengaruh pada kendaraan yang digunakan sehari-hari, termasuk mobilnya yang dikenal imut-imut :D Di kota ini juga sangat nampak jelas bentuk rumahnya yang mirip dengan rumah-rumah di kawasan Tamansari yang saling sambung menyambung dimana di dalamnya terdapat lapangan. Mungkin ini merupakan ciri rumah keraton :D Ada datu gambar yang menggelitik dari hasil jepretan Matatita, yaitu beberapa bapak-bapak lansia yang sedang asik nongkrong bersama kawan sebayanya. Aneh, karena kebanyakan yang suka kongkow kan anak muda, ini malah aki-aki. Nggak cuman itu, tapi juga ada dimana terdapat komposisi saat beberapa wanita sedang mencuci di depan rumah orang yang memiliki aliran air dan satu orang wanita lain berjalan persis di depan mereka tanpa bertegur sapa. Sangat kontras.

Untuk foto-fotonya bisa dilihat di pameran yang berlangsung sampai 5 Januari dan ditutup dengan workshop "Membaca Foto" di Sangam :) Selamat menikmati sajian mata :))
cc: http://www.matatita.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar