Rabu, 28 Desember 2011

"Doctor Honoris Causa Sri Sultan Hamengku Buwono X"

Selasa, 27 Desember 2011 mungkin merupakan hari yang bersejarah untuk beberapa orang, termasuk saya, karena masih diberi kesempatan untuk melihat secara langsung prosesi penganugerahan gelar pendidikan Sri Sultan Hamengku Buwono X, Bandoro Raden Mas (BRM) Herdjuno Darpito sebagai Doctor Honoris Causa di bidang seni pertunjukan yang merupakan pertama dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Menurut Wikipedia, Gelar Honoris Causa (H.C) / Gelar Kehormatan adalah sebuah gelar kesarjanaan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi/universitas yang memenuhi syarat kepada seseorang, tanpa orang tersebut perlu untuk mengikuti dan lulus dari pendidikan yang sesuai untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya tersebut. Gelar Honoris Causa dapat diberikan bila seseorang telah dianggap berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia. 


Gelar Doktor Kehormatan tercatat pertama kali diberikan kepada Lionel Woodville sekitar tahun 1470 oleh Universitas Oxford, Inggris. Ia kemudian dikenal sebagai Uskup Wilayah Salisbury/Bishop of Salisbury. Pada awalnya, pemberian gelar Doktor Kehormatan ini dianggap sebagai sesuatu hal yang tidak biasa. Pemberian gelar Doktor Kehormatan ini mulai dianggap biasa sekitar abad ke-16, khususnya pada masa-masa ketika banyak universitas-universitas yang belum tenar pada saat itu, menerima kunjungan kehormatan dari universitas-universitas ternama seperti Universitas Oxford atau Universitas Cambridge. Pada waktu kunjungan James I ke Universitas Oxford pada tahun 1605 misalnya, 43 dari rombongan beliau (15 diantaranya merupakan golongan bangsawan tinggi dan ksatria) mendapatkan Gelar Kehormatan Master of Arts dari Universitas Oxford dan mereka tercatat sebagai yang memiliki kesarjanaan penuh.


Seseorang yang telah menerima gelar Doktor Kehormatan, mendapatkan hak yang sama seperti para penerima gelar yang lainnya misalnya, dapat mencantumkan tanda kedoktorannya pada awal nama (Dr. xxx), namun khusus untuk yang menerima gelar Doktor Kehormatan, dapat mencantumkan tanda khusus Doktor Kehormatannya dengan singkatan H.C (Dr. H.C xxx).

Begitulah sedikit yang saya tau tentang gelar yang diberikan kepada Sri Sultan HB X. Sebelumnya, beliau juga mendapatkan gelar serupa di bidang kemanusiaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dalam acara pengukuhan tersebut, saya terlibat dalam choir ISI Yogyakarta. Pengalaman itu adalah yang pertama sejak saya bergelut di dunia musik. Bernyanyi di depan pejabat penting di wilayah Jogja, apalagi Sultan dan keluarga, wedew, kikukk bukan main awalnya, tapi lama-lama malah ketagihan, wkwkwwk.. Nggak cuma choir saja yang meramaikan pesta kemarin pagi, tapi juga orkestra dari teman-teman musik dan karawitan ISI Yogyakarta. Tak lupa tari kebangsaan "Saraswati" yang merupakan tari favorit saya. Selama mengikuti choir untuk acara semacam ini, tari ini tidak pernah membuat saya menutup mata saat beraksi. (Selain penarinya cantik-cantik, gerakannya lembut dan tak membosankan).

Nahh, yang beda, kali ini dihadirkan juga tari "Bedaya Sang AmurwaBumi" ciptaan Sri Sultan HB X. Kalau boleh jujur, saya merinding saat melihat dan mendengar musik pengiringnya. Serasa berada di dongeng Majapahit, hehe.. Tarian ini dibawakan oleh sembilan wanita cantik dan empat wanita lain sebagai 'pengantar', dimana diantara sembilan penari itu, salah satunya adalah putri Sultan, GRA Nurmalita Sari / GKR Pembayun.


Tari Bedaya Sang AmurwaBumi

Foto bersama keluarga setelah pengukuhan

Tari Saraswati

*maaf untuk foto-fotonya mungkin agak sedikit membuat mata pedes. Mohon dimaklumin yah, pake kamera hape nih:D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar