Selasa, 28 Februari 2012

Beginikah Yang Dinamakan Pengayom Masyarakat?

Okeeii, ini kali pertamanya saya melihat pasangan saya emosi yang tak terkontrol. Berteriak dan menunjuk, membuat puluhan pasang mata terpana. Bibir saya bergetar dan tak bisa berkata bak sekecap. 

Yah, inilah puncak dimana butir sila ke-lima Pancasila tak benar-benar dimengerti, bahkan oleh satuan 'ALAT NEGARA'. 

Dimulai dari Temanggung, perjalanan pulang ke Jogja tak mengalami hambatan, sampai akhirnya bertemulah kami tepat di traffic light pertigaan Wonosobo-Temanggung. Dari jauh tak terlihat tulisan 'operasi gabungan' yang selalu berdiri tegap saat dilaksanakannya razia. Santai berjalan, motor yang kami tunggangi diberhentikan oleh salah satu dari 'tiga' polisi yang sedang bertugas, dimana satu diantara mereka mengaku sebagai kepala operasi, yang juga sempat curhat bahwa dia adalah seorang 'HAJI' (njug ngopo?). 
Berhentilah kami, karena memang kami bingung 'kenapa', apa yang salah? Plat nomor masih berfungsi, kaca spion pun menandakan tangan berdoa, dan surat-surat juga lengkap. 

Setelah bertanya, ternyata karena tak memakai lampu wajib siang-malam lah penyebab diberhentikannya kami. Okeeii, mungkin peraturan di daerah tersebut mencanangkan wajib menyalakan lampu siang hari, tapi tidak bisakah mereka menanyai kami 'tahukah kalian' atau 'kenapa lampunya tidak dinyalakan', layaknya seorang pengayom masyarakat. 

Ketidaktahuan dan kecilnya rasa keadilan itulah yang menyulut jiwa muda yang membara atau bisa dikatakan perilaku yang terlalu berani seorang mahasiswa (ISI). "Tidak bisa gitu, Pak. Indonesia ngga adil!! Saya itu masih ingat sila kelima Pancasila," dan blaaablaablaaa.. Berbagai pembelaan meluncur keluar dari mulut pasangan saya dengan seenak jidat, tapi kami memang memiliki hak membela diri, bukan? Dengan santai polisi yang juga Sarjana Hukum menjawab, "Kalo mau cari keadilan jangan disini, di pengadilan! Disini hanya menegakkan peraturan!" Helloooow, peraturan?? Lah, dengan jelas meski tak memakai kacamata minus pun saya melihat seorang lelaki setengah baya memakai jaket kulit hitam denga motor CB tak memakai lampu, parahnya ia juga tak mengenakan HELM..!! Kemana polisi yang tadi memberhentikan kami? Kemana kata-kata 'menegakkan peraturan' yang disanjung-sanjung itu lari?

Inikah yang namanya polisi sebagai penegak hukum? Hukum itu bukannya harus dilandasi dengan keadilan??? 

*meskipun akhirnya kami diloloskan, tetap rasa kesal dan kecewa oleh janji palsu para penegak hukum itu berkeliaran di hati saya!!! 
Beruntung kami berani 'menunjuk' polisi tersebut, jika dari awal hanya mengangguk, mungkin kami tak bertemu dengan Jogja untuk malam ini. #hufftt!! 

#Temanggung, 27 Februari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar