Selasa, 07 Februari 2012

“Meriahnya Imlek di Yogyakarta dengan Festival Naga Barongsai”


Salah satu atraksi yang ditampilkan apik oleh "Lung Shen Hwee" dari Salatiga pada puncak acara Dragon Festival (6/2/2012). Festival ini merupak pertama kalinya diadakan di Indonesia, bertempat di sepanjang jalan Malioboro-Ahmad Yani yang digelar untuk menyambut hadirnya tahun Naga Air bagi kepercayaan Tionghoa. (foto/prasetya yudha)



Perayaan imlek di kota Yogyakarta yang dimulai dari tanggal 2-6 Februari 2012 malam ini mencapai puncak, dengan menghadirkan 10 barongsai dari beberapa daerah, diantaranya Salatiga, Kebumen, Semarang, dan Yogyakarta. Acara yang dinamai Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY)  ke-VII 2012 mengangkat tema “Mengukuhkan Kebhinekaan Yogyakarta” ini dimulai pukul 6 sore dan berakhir tepat pukul 8 malam. Seluruh warga melebur menjadi satu di sepanjang jalan Malioboro-Ahmad Yani, yang mengambil start di Taman Parkir Abu Bakar Ali dan finish di Tititk Nol Kilometer.


Sebelumnya, acara yang terpusat di Jalan Ketandan, tepatnya di sepanjang gang yang bertempat di sebelah Mall Ramayan ini menyajikan berbagai macam acara, mulai dari tari-tarian kolaborasi Didi Nini Thowok, band, sulap, karaoke, hingga ketoprak yang diadakan di panggung utama.


Festival Naga Barongsai ini adalah yang pertama kali diadakan di Indonesia. Menurut salah satu panitia, acara ini diselenggarakan untuk menyambut tahun naga air yang jatuh pada tahun 2012. Festival yang memperebutkan hadiah total sebesar 27 juta ini berlangsung sangat meriah. Tak heran jika ada beberapa orang yang terpancing emosinya saat petugas meminta mereka tidak keluar dari batas yang sudah disiapkan. Adapula seorang fotografer yang sempat memaki seorang petugas yang berniat untuk menyelamatkannya dari riuhnya barongsai yang cukup besar dari pasukan ‘Naga Doreng’ Yon Arhanud SE-15 Kodam IV Diponegoro dengan pasukan pembawa Liong sebanyak 9 orang.


“Awas, minggir-minggir, sepatune gede lho, berdiri semua”, salah satu kalimat petugas yang berjaga mengamankan lancarnya atraksi dari pemain urutan ke-8 itu. Berdesakan di acara yang super meriah dan tak ada pengamanan khusus untuk para lansia dan anak-anak ini sungguh sesuatu yang menyedihkan di tengah riuhnya penonton yang tak kenal umur. Banyak pula orang tua yang sengaja menyuruh anak-anak mereka berdiri di depan agar dapat melihat dengan jelas atraksi yang ditawarkan.  Jika diperhatikan, semestinya para orang tua tidak membiarkan anak-anak mereka berada di depan, karena tak menutup kemungkinan bahwa acara tersebut akan memakan korban jika mereka lengah menjaga anak-anak mereka.


Tak hanya liong yang ditampilkan dalam acara itu, namun dihadirkan juga para penari dengan busana putih berbalut sifon dan lampu-lampu bercorak hijau dan menarikan tarian kipas dipandu oleh penari lelaki yang berdandan wanita menggunakan rambut pasangan berwarna.


Bahkan Bregodo Lombok Abang dari Keraton juga ikut menghiasi hiruk pikuk perayaan imlek tahun ini. Dibalut topi khas bergaya lombok merah, para bregodo tampak menghayati setiap langkah mereka, meskipun terdengar sangat kontras musik yang mereka mainkan dengan musik dari para pemain barongsai.


Kemeriahan imlek di Yogyakarta tak berhenti sampai disitu, adapula naga barongsai terpanjang yang dimiliki Yogyakarta dengan panjang lebih dari 130 meter yang dibawakan oleh 200 pasukan dari Yonif 403 Yogyakarta. Penampilan Naga Liong terpanjang ini mengalami kesulitan saat akan beraktraksi. Hal ini dikarenakan beratnya Naga dan sempitnya tempat yang akan digunakan untuk menunjukkan aksi-aksi indahnya. “Ya, Tuhan, gede banget”, ujar salah satu penonton yang terperangah melihat besarnya Liong yang dibawakan oleh para TNI tersebut di pinggir pagar.


Memang, perayaan imlek setiap tahun mengalami peningkatan, baik dari sajian, maupun penonton. Hal ini disebabkan sejak tahun 1999, larangan tentang adanya segala jenis perayaan bagi kaum minoritas, dalam hal ini adalah etnis Tionghoa oleh pemerintahan Soeharto resmi dihapuskan dengan keputusan Gus Dur yang saat itu baru 10 hari menjabat sebagai Presiden RI. Sejak saat itu pula, berbagai jenis acara yang berbau etnis sering terdengar publik, tak luput juga ‘Imlek’, yang merupakan tahun baru untuk tanggalan Cina.


Selain untuk memperingati lahirnya tahun naga air, dilihat dari temanya, acara ini juga bertujuan untuk menyatukan keberagaman budaya di kota Yogyakarta. Seperti yang kita tahu, Yogyakarta merupakan kota istimewa dengan berbagai macam kebudayaan dan perbedaan menjadi satu. Tak peduli dari suku mana dan berbahasa apa, Yogyakarta tetap mampu menyatukan dan menerima mereka untuk hidup rukun dan damai di tanah istimewa ini.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar