Minggu, 01 April 2012

Yang Lain Berdemo Yang Ini Asik Memukul Irama


            Dipukul  dan bernada, membentuk irama yang menggoyangkan kaki, tangan, dan beberapa anggota tubuh. Itulah perkusi, instrumen asal Afrika yang berasal dari kata percussio (memukul) dan percussus (kata benda yang berarti pukulan) yang dikemas secara apik oleh teman-teman dari KESPER.
            KESPER merupakan KKM (Kelompok Kegiatan Mahasiswa) Jurusan Musik Institut Seni Indonesia, khususnya mayor perkusi yang didirikan pada tanggal 7 Mei 2001 dengan anggota awal hanya 10 orang hingga saat ini mencapai 50 orang dan semuanya aktif dalam kegiatan musik khususnya perkusi.
            Beberapa jenis instrumen perkusi ikut meramaikan acara bertema “KESPER Tour Ing Kampus #2, Klotekan” ini, antara lain adalah Marimba, Bongo, Chinese Cymbal, Chymes Gong, Grand Marimba, Vibraphone, Concert Tom-Tom, Grand Cassa, Log Drum, Drum Set, Conga, Crotales, dan Cow Bell.
            Acara yang digelar, Sabtu 31 Maret 2012 di Stage Tari Tedjokusumo, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta ini mampu memukau penonton dengan dibuka oleh dua MC kocak Ovy dan Punyx. Untuk repertoar pertama yang ditampilkan adalah ‘The Music of James Bond’ yang berkolaborasi dengan Marching Band Citra Derap Bahana Universitas Negeri Yogyakarta dengan jumlah pemain perkusi 10 orang. Karya ini diadaptasi dari film ‘James Bond’, kecerdikan detektif ini merupakan format shymphoy brass band, yang kemudian diadaptasikan untuk ensemble perkusi oleh Buncis. Ada tiga bagian dalam pementasan pembuka ini, bagian pertama dibangun dengan suasana jazz, bagian kedua bersifat lambat atau ballad, dan ditutup dengan suasana rock.
            Repertoar kedua adalah Taiko, sebuah instrumen berupa bedug yang berasal dari Jepang. Semangat dan pakaian serta rambut ala Jepang yang ditampilkan membuat penonton serasa dibawa dalam suasana negeri Sakura. Instrumen yang dibawakan adalah concert tom, bongo, dan grandcassa.
            Penampilan lucu, menyenangkan, dan unik ditampilkan pada repertoar ketiga dengan judul “Plink Plank Plunk” yang dimainkan oleh 6 orang dengan masing-masing memainkan instrumen Marimba 1, 2, Xylophone, Vibraphone 1, 2, dan Glockenspiel. Karya ini dibuat dalam format ansamble string, yang kemudian di adaptasi untuk ansamble perkusi. Menciptakan suasana yang lincah dengan pemilihan nada yang menyenangkan untuk didengar adalah tujuan karya ini, yang juga digunakan sebagai musik tema dalam acara “The Popular Primetime Television Game Show I’ve Got a Secret 1952-1961”.

Salah satu penampil KESPER yang membawakan nuansa Bali. 
(foto/wisnu locker)
Berbagi Ilmu 
            Sesuai dengan temanya “Tour Ing Kampus”, KESPER juga mengajak teman-teman UNY untuk ikut unjuk kebolehan, salah satunya adalah Dhimas Ade Setiyawan, mahasiswa Tekhnik Sipil angkatan, Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2008 ini menunjukkan aksinya dengan solo quint tom atau multi tenors. Ia mengawali kegemarannya saat masih kecil, “Kebetulan saya sejak SMP pernah main band dan saya teruskan di kuliah dengan mengikuti Marching Band di kampus,” jelas lelaki asal Klaten ini. Untuk judul yang dibawakan adalah Kill The Bees, dimana konsep ini pernah meraih juara III GPMB 2011 untuk kategori solo percussion, yaitu kejuaraan nasional Marching Band di Indonesia yang diadakan di Senayan, Jakarta. “Harapan saya semoga acara seperti ini bisa terus diadakan, selain bisa mengasah ilmu di bidang musik, saling tukar pengetahuan dan sharing bersama teman-teman ISI juga sangat menyenangkan,” imbuhnya.
            Acara yang akan terus digelar ke berbagai kota dan kampus ini banyak mendapat apresiasi dari para penonton, salah satunya Sinom Tyas, “Salut untuk KESPER dan CDB untuk aksi panggungnya malam ini, tontonan yang jarang sekali bisa kita saksikan di tempat lain.” Beberapa pengunjung lainnya juga mengomentari hal yang sama, “Yang seperti ini yang layak untuk dilihat,” ucap Marta Nambilu, salah satu penonton yang antusias dengan acara ini.
            Persiapan yang memakan waktu satu bulan ini tak sedikit mengalami kesulitan. “Karena konsep ini adalah Tour Ing Kampus, KESPER mengajak tuan rumah untuk berkolaborasi, nah salah satu kesulitannya mungkin latihan kekompakan antara Marching Band dari UNY dengan kami. Repertoar pun, kami mengikuti CDB yang lebih memberikan konsep panggung, seperti Pirates of the Carribean, Dancing Queen, dan The Music of James Bond,” jelas ketua panitia Ryan Saputro yang merupakan mahasiswa Jurusan Musik Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Khusus untuk acara ini, dana yang didapat selain dari kampus, juga dari para sponsor dan donatur serta hasil ngamen di beberap tempat, seperti di Malioboro yang diadakan sebanyak tiga kali dan Sunday Morning satu kali. “Pertama kali diadakan adalah pada tahun 2003 oleh para tetua kami di KESPER dan kami sebagai penerus akan terus mengembangkan, kemungkinan ke Bandung, Malang, dan untuk closing touring ini tetap di Jogja,” imbuh lelaki yang juga menunjukkan kebolehan dengan soloperformance.
            Kemegahan acara dengan menampilkan 15 repertoar ini ditutup dengan penampilan Suite for Solo Drum Set and Percussion Ensemble, yang menggunakan pola-pola Latin dan Afro-Kuba dengan banyak bagian untuk solo drum di dalamnya. Di tengah bagian juga terjadi improvisasi tanya jawab antara penonton dan pemain drum set juga instrumen perkusi lainnya yang membuat penonton tertawa. Dan diakhir penampilan, para pemain turun dan mengajak penonton untuk naik ke atas panggung dan bermain bersama dan semua pengisi acara ikut memeriahkan panggung. Satu kata yang diucapkan diakhir adalah “hidup terus musik Indonesia!”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar