Selasa, 28 Februari 2012

Beginikah Yang Dinamakan Pengayom Masyarakat?

Okeeii, ini kali pertamanya saya melihat pasangan saya emosi yang tak terkontrol. Berteriak dan menunjuk, membuat puluhan pasang mata terpana. Bibir saya bergetar dan tak bisa berkata bak sekecap. 

Yah, inilah puncak dimana butir sila ke-lima Pancasila tak benar-benar dimengerti, bahkan oleh satuan 'ALAT NEGARA'. 

Dimulai dari Temanggung, perjalanan pulang ke Jogja tak mengalami hambatan, sampai akhirnya bertemulah kami tepat di traffic light pertigaan Wonosobo-Temanggung. Dari jauh tak terlihat tulisan 'operasi gabungan' yang selalu berdiri tegap saat dilaksanakannya razia. Santai berjalan, motor yang kami tunggangi diberhentikan oleh salah satu dari 'tiga' polisi yang sedang bertugas, dimana satu diantara mereka mengaku sebagai kepala operasi, yang juga sempat curhat bahwa dia adalah seorang 'HAJI' (njug ngopo?). 
Berhentilah kami, karena memang kami bingung 'kenapa', apa yang salah? Plat nomor masih berfungsi, kaca spion pun menandakan tangan berdoa, dan surat-surat juga lengkap. 

Setelah bertanya, ternyata karena tak memakai lampu wajib siang-malam lah penyebab diberhentikannya kami. Okeeii, mungkin peraturan di daerah tersebut mencanangkan wajib menyalakan lampu siang hari, tapi tidak bisakah mereka menanyai kami 'tahukah kalian' atau 'kenapa lampunya tidak dinyalakan', layaknya seorang pengayom masyarakat. 

Ketidaktahuan dan kecilnya rasa keadilan itulah yang menyulut jiwa muda yang membara atau bisa dikatakan perilaku yang terlalu berani seorang mahasiswa (ISI). "Tidak bisa gitu, Pak. Indonesia ngga adil!! Saya itu masih ingat sila kelima Pancasila," dan blaaablaablaaa.. Berbagai pembelaan meluncur keluar dari mulut pasangan saya dengan seenak jidat, tapi kami memang memiliki hak membela diri, bukan? Dengan santai polisi yang juga Sarjana Hukum menjawab, "Kalo mau cari keadilan jangan disini, di pengadilan! Disini hanya menegakkan peraturan!" Helloooow, peraturan?? Lah, dengan jelas meski tak memakai kacamata minus pun saya melihat seorang lelaki setengah baya memakai jaket kulit hitam denga motor CB tak memakai lampu, parahnya ia juga tak mengenakan HELM..!! Kemana polisi yang tadi memberhentikan kami? Kemana kata-kata 'menegakkan peraturan' yang disanjung-sanjung itu lari?

Inikah yang namanya polisi sebagai penegak hukum? Hukum itu bukannya harus dilandasi dengan keadilan??? 

*meskipun akhirnya kami diloloskan, tetap rasa kesal dan kecewa oleh janji palsu para penegak hukum itu berkeliaran di hati saya!!! 
Beruntung kami berani 'menunjuk' polisi tersebut, jika dari awal hanya mengangguk, mungkin kami tak bertemu dengan Jogja untuk malam ini. #hufftt!! 

#Temanggung, 27 Februari 2012

Jawaban Dari Sebuah Penantian :)

Menatap kabut tebal di kaki gunung Sindoro bersamaan dengan hadirnya embun itu sesuatu, sedikit susah untuk sampai kesini, karena kendaraan yang saya pakai sempet ngambek dan ngga mau jalan. 

Sepanjang perjalanan, yang saya pikirkan adalah perpisahan dan pertemuan. Jika biasanya kalimat kedua berada diawal, lain cerita saat mereka bertemu dengan hidup saya. 
Perpisahan, menyedihkan, menyakitkan, bahkan membuat trauma. Kepergian sosok yang sangat saya banggakan membuat saya tak lagi mempercayai kaum yang bernama Adam. 
Dulu, sosoknya begitu sempurna dihadapan mata, begitu jantan, dan begitu mencintai saya, tapi kejadian malam itu memutar 180 derajat penilaian saya selama 12 tahun. Dimana sayang tak lagi berkonotasi positif. Hitam, pekat, merajai dinding hati yang terlanjur terpatri namanya. Beginikah sosoknya yang sebenarnya? 

Disini, dibawah kaki Sindoro, menerawang jauh ke atas, memastikan bahwa awan benar-benar menemani langit yang sedang ingin bercinta. Berjarak, berputar, dan bertingkat, begitulah gambaran langit Temanggung sore ini, menambah deru jeritan hati yang rindu akan 'kasih' dan 'sayang' (nya). 

Temanggung, tiga jam dari Jogja mampu membuka keberadaan lelaki baru dalam hidup saya. Tak lama memang, tapi mampu membuat saya atau yang terpenting 'bunda' bahagia. Meski ia berada jauh disana, namun tanggungjawabnya yang besar tak memandang jutaan bahkan milyaran kilo Jawa-Kalimantan. 

Yah,, dia keluarga baru saya, dia sosok yang saya rindukan. Kau yang hebat, tegar dan kuatlah disana, karena kami akan sabar menantimu pulang ke rumah, ke pelukan hangat sang mentari pagi dan sejuknya rembulan malam. Untukmu, Ayahku :')

Sabtu, 11 Februari 2012

ISI Bersatu Tak Bisa di ISBI kan !


Proses pemasangan spanduk penolakan ISBI di depan pintu gerbang ISI Yogyakarta. (foto/bibeh)

Teatrikal penolakan ISBI yang diperankan oleh teman-teman dari ISI Yogyakarta. (foto/vyvy).


Bertepatan dengan hari PERS Nasional, Kamis (9/2), Institut Seni Indonesia mengalami kepadatan kampus yang sangat jarang terjadi, hal ini dikarenakan demo menolak konversi ISI menjadi ISBI. Dimana-mana berkumandang "ISI Bersatu Tak Bisa Dikalahkan" dengan toa merah menyala menandakan betapa kecewanya mereka kepada Dikti atas keputusan sepihak yang tak megadakan sosialisasi terlebih dahulu kepada warga yang terlibat.

"Yang ada mah tahu ISI, bukan tahu ISBI," ucap salah seorang demonstran yang juga mahasiswa ISI itu. "Untuk apa adanya perubahan nama ISI menjadi ISBI, wong fasilitas seperti kamar mandi aja masih memalukan seperti itu. Percuma banyak mahasiswa asing, tapi fasilitas masih aja buruk," jelas Rizal Su, salah satu mahasiswa Grafis, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta angkatan 2009. Memang tak sedikit yang menolak perubahan ini. Alasannya simple, karena mereka tak mau disamakan dengan perguruan tinggi yang sudah ada. Apakah dengan ditambahnya huruf "B" diantara "IS" di depan dan "I" dibelakang menjamin adanya penaikan kualitas akademika, yang jika dijabarkan justru akan banyak pengeluaran untuk mengadakan pembenahan, dari pemasaran, hingga hubungan dengan sekolah tinggi di luar negeri?

ISI resmi berdiri pada 23 Juli 1984, yang berawal dari gabungan 3 fusi, yaitu ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) tahun 1950, ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) tahun 1961, dan AMI (Akademi Musik Indonesia) tahun 1963. “Sejarah terbentuknya ISI yang panjang itu juga ngga semudah itu tiba-tiba ada, setiap perubahan mengalami peningkatan yang positif,” ujar Yoyon Bolang mahasiswa Fakultas Seni Rupa, Lukis 2009 saat dimintai keterangan mengapa ia ikut membubuhkan tanda tangan. Acara yang diawali dari depan pintu gerbang ISI dengan membentangkan spanduk bertuliskan ISBI dimana huruf B dicoret dengan warna merah itu memang menyiapkan beberapa rangkaian acara, diantaranya tanda tangan di atas spanduk besar, teatrikal seni, dan sablon gratis. "Perubahan itu perlu, tapi cukup lah,” imbuh Yoyon yang juga salah satu aktivis mahasiswa ini.

Semua biaya dan keperluan acara ini adalah iuran dari beberapa mahasiswa dan beberapa UKM, yaitu Sasenitala (Konservasi Seni dan Alam), Pressisi (Pers Mahasiswa ISI), KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik), Kailmas (Karya Ilmiah Mahasiswa), dan juga SFC (Saraswati Football Club). "Kegiatan ini memang atas nama UKM ISI Yogyakarta, yang dinaungi BEMI," jelas Agus Susanto, salah satu koordinator kegiatan yang merupakan mahasiswa Pedalangan 2010. "Kami akan tetap memperjuangkan ISI, sampai kapanpun," imbuhnya semangat.

Selain mahasiswa, hadir juga Direktur Pasca Sarjana, Prof. Drs. M. Dwi Marianto M.F.A, PhD yang mengawali wawancara di depan halaman Fakultas Seni Rupa, Jurusan Grafis. “Dikti harus membuat naskah akademik yang jelas dan untuk itu akan memerlukan waktu yang cukup lama, bisa enam bulan, bahkan dua tahun,” jelas Marianto yang juga menjadi staff pengajar S2. Selain itu, ia juga menambahkan untuk mengadakan perubahan,  perlu adanya sosialisasi dan pengkajian kembali apakah benar-benar dibutuhkan, melihat nanti akan lebih banyak pengeluaran untuk perubahan kop surat dan segala macam keperluan lain yang mendukung adanya perubahan tersebut. “Harusnya Dikti memberikan kejelasan tentang adanya ISBI, tidak tiba-tiba merubah sejarah ISI, dan diharapkan dari pihak ISI sendiri ikut memberikan pendapat, tidak hanya menunggu seperti sekarang ini,” imbuh Marianto saat diwawancarai.

Dalam tatanan akademik, ISI sudah memenuhi standart sekolah seni yang berbudaya dengan adanya mata kuliah antropologi seni, semiotika, sosiologi seni, dan kebudayaan. "Menurut saya, itu tak ada masalah dan tak perlu lagi mengganti nama, jika memang ingin lagi memasukkan unsur kebudayaan, tambahkan saja dalam prodi, bukan terus mengganti nama. Sekarang itu, yang dibutuhkan ISI adalah perbaikan dari yang sudah ada," sambung Marianto.

"Untuk BEMI sendiri baru dapat informasi kemarin (Rabu-red), karena penyelenggaranya adalah temen-temen dari UKM, tapi yang jelas kalau dari kami (BEMI) mendukung. BEMI sendiri sebenarnya sudah mempunyai wacana untuk merespon penolakan konversi ISI menjadi ISBI ini dalam bentuk dialog. Dimana kegiatannya adalah mengumpulkan semua mahasiswa ISI dan berbagi pengetahuan tentang seberapa besar pengetahuan teman-teman tentang ISBI ini. Menurut kami ini hanya spekulasi dari beberapa pihak, karena unsur politik yang terdapat di dalamnya,” jelas Namuri Migutuwio, mahasiswa Fakultas Seni Rupa, Jurusan Desain Komunikasi Visual ini saat dimintai keterangan. ISBI yang berawal dari wacana beberapa petinggi pemerintah ini memang belum jelas apakah akan segera disahkan atau hanya sekedar issu. “Yang jelas kami masih tetap menunggu kejelasan dari pihak Dikti tentang rancangan ISBI ini,” imbuh lelaki yang juga menjabat sebagai anggota BEMI divisi Penelitian dan Pengembangan.

Selain dari beberapa mahasiswa dan dosen, mantan Rektor ISI Yogyakarta yang juga menjabat sebagai senat Prof. Drs. Soeprapto Soedjono M.F.A, PhD ikut angkat suara. Ia menyatakan keberatan jika ISI harus diganti menjadi ISBI. “Saya yang sejak awal di ISI merasa sangat sedih, mau dikemanakan ISI yang sudah lama dan memiliki sejarah ini? Saya jadi tidak nyaman dengan adanya wacana akan perubahan ISI menjadi ISBI ini.  Padahal ISI sendiri belum dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, malah mau diganti ISBI. ‘B’ nya itu apa? Budaya yang bagaimana? Bagaimana pun ISI akan tetap ISI, tidak mungkin menjadi ISBI,” jelasnya disela-sela kesibukannya sebagai dosen Fotografi ISI Yogyakarta.

Terdengar desas-desus bahwa ia juga akan diangkat menjadi Rektor ISBI di daerah Kalimantan, ia pun menanggapi dengan santai, “Memang, wacana lain, di beberapa wilayah seperti Aceh, Sulawesi, Papua dan Kalimantan akan dibangun ISBI dimana untuk ISBI Aceh dilaksanakan oleh ISI Padang Panjang, ISBI Sulawesi oleh ISI Surakarta, ISBI Papua oleh ISI Bali, dan ISI Kalimantan diwakili dari ISI Yogyakarta dan saya diminta untuk menjadi Rektor disana, itupun saya belum dapat kepastian. Menurut saya itu bagus, tidak perlu merombak, tapi membangun baru di daerah luar Jawa yang memang belum terdapat sekolah seni yang berkompeten,” jelasnya sambil menunjukkan majalah yang memuat tentang dirinya untuk menjabat sebagai Rektor ISBI wilayah Kalimantan ini.

Saat ditanyai mengenai keinginan ISI ke depan, mantan rektor yang pernah menempuh pendidikan di ASRI angkatan 1974 ini mengatakan bahwa ISI akan dijadikan USI (Universitas Seni Yogyakarta). “Sebenarnya yang akan direncanakan ke depan adalah USI, dimana akan terdapat beberapa disiplin ilmu yang setara dengan Universitas lain, seperti Ilmu Pendidikan dan Manajemen. Hal ini yang seharusnya diwacanakan benar-benar, bukan mengganti nama,” imbuhnya.

 Pihak rektorat yang ditemui Sabtu (11/2) siang juga mengatakan ketidakjelasan akan wacana yang dilontarkan Dikti. “Apakah teman-teman yang mengadakan demo itu sudah paham betul dengan konsep dari ISBI? Saya tidak bisa mengatakan apakah akan menolak atau menerima untuk saat ini, karena kami belum menerima konsep dan kejelasan dari ISBI. Sampai sekarang, pihak Pemerintah belum mengatakan apa-apa mengenai ISBI kepada ISI. Saya pernah rapat sekali di Jakarta, tapi wakil yang mengundang tidak dapat menjelaskan konsepnya apa,” jelas Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Dr. A.M. Hermien Kusmayati yang diwawancarai di ruangannya.

 “Saya kira secara implisit memang pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan baru mewacanakan, kemudian dari koordinasi belum ada kejelasan yang cukup lengkap untuk dijadikan bahan pertimbangan. Dalam hal ini (ISI), di satu pihak menunggu kejelasan dari pemerintah, dan di sisi lain repot menanggapi respon masyarakat yang secara garis besar menolak. Kita ini sudah membangun pendidikan tinggi seni dari komponen-komponen ASRI, AMI, ASTI yang sudah hampir 62 tahun berdiri, dan itu sudah mengalami proses yang panjang, sehingga sudah kenyang berhadapan dengan problem-problem yang dihadapi. Secara normatif penyelenggaraan pendidikan tinggi sudah memenuhi syarat-syarat akademik yang diinginkan pemerintah. Nah sekarang yang diupayakan ISI sebenarnya hanya memantapkan status pendidikan kita yang demikian. Apa yang sedang kita jalanakan ini mengikuti norma dari pemerintah. ISI Yogyakarta sangat menyadari apa yang kita hadapi sekarang adalah proses dari pemantapan yang sedang membangun tatanan. Kita terbuka terhadap masukan-masukan dan evaluasi, tapi mohon juga pencapaian yang sudah kami dapatkan mendapat apresiasi yang positif dan tidak dilupakan,” jelas Dr. M. Agus  Burhan, yang saat ini menjabat sebagai Pembantu Rektor I, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

“Hal ini mencuat dikarenakan respon di media, padahal konsep ISBI sendiri belum tahu. Untuk masalah pendidikan itu kan tidak gampang, dokumen dari ISI menjadi ISBI sampai sekarang masih belum pasti. Apakah ini hanya pemikiran yang sekedar muncul begitu saja atau bagaimana, kami belum tahu. Kami masih menunggu kapan mereka akan memberikan kejelasan konsep dari ISBI sehingga kami bisa merespon tanggapan dari masyarakat,” imbuh Pembantu Rektor III, Drs. Syafruddin M. Hum.

Jumat, 10 Februari 2012

Foster The People - Pumped Up Kicks





robert's got a quick hand.
he'll look around the room, he won't tell you his plan.
he's got a rolled cigarette, hanging out his mouth he's a cowboy kid.
yeah, he found a six shooter gun.
in his dad's closet hidden in a box of fun things, and i don't even know what.
but he's coming for you, yeah he's coming for you.


all the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, outrun my gun.
all the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, faster than my bullet.

daddy works a long day.
he be coming home late, yeah he's coming home late.
and he's bringing me a surprise.
'cause dinner's in the kitchen and it's packed in ice.
i've waited for a long time.
yeah the sleight of my hand is now a quick-pull trigger,
i reason with my cigarette,
and say your hair's on fire, you must have lost your wits, yeah.


all the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, outrun my gun.
all the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, faster than my bullet.


all the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, outrun my gun.
all the other kids with the pumped up kicks you'd better run, better run, faster than my bullet. 

Rabu, 08 Februari 2012

Pantaiku Indah, Pantaiku Malang!



Beberapa hari yang lalu, saya bersama teman saya mendatangi sebuah pantai di Selatan yang bernama Parangtritis. Niat awal sih pengen foto-foto narsis dan menikmati sunset, karena melihat keindahan langit yang sedang tersenyum indah. Matahari berwarna kuning dipadu langit biru keunguan dan sedikit melingkar membentuk aurora menambah keindahan pantai wisata sore itu.

Sesampai saya di sana, tak disangka banyak pengunjung domestik yang juga asik memainkan kamera untuk mengabadikan indahnya Minggu sore itu. Setelah memarkir motor, kami pun lekas menuju bibir pantai. Sekitar 10 meter dari pantai terdapat banyak sekali sampah yang entah darimana asalnya. Sampah-sampah itu menggunung dan berceceran. Ombak yang menyapu pasir pun membawa berbagai macam sampah, dari plastik, kertas, tumbuh-tumbuhan, hingga puntung rokok.

Ironis memang, karena banyak sekali pengunjung yang lalu-lalang, tapi seakan tak mempedulikan hal itu. Mereka asyik dengan kesibukkan mereka sendiri. Pantai yang dijadikan kunjungan wajib bagi para pendatang pun tak lagi terlihat layak sebagai tempat ‘wisata’. Yah, tulisan memang hanya tulisan, dan mungkin tak banyak yang ingin membaca, tetapi setidaknya saya berharap pemerintah setempat bisa segera mengambil tindakan untuk membersihkan area pantai yang konon merupakan tempat keramat itu agar terlihat layaknya tempat yang pantas dikunjungi.

Selain kepada pemerintah, saya juga sangat berharap para pengunjung juga ikut menjaga kebersihan tempat wisata, tak hanya pantai, tapi juga yang lainnya. Dengan adanya simbiosisi mutualisme antara pantai dan pendatang, semoga tak terulang kembali keadaan kumuh seperti sampah di pantai.


Lokasi tepatnya sampah yang berserakan di bibir pantai Parangtritis (Minggu, 5/2/2012). Terlihat beberapa pengunjung yang tak mempedulikan kotornya keadaan sekitarnya. (foto/piyudh)

Selasa, 07 Februari 2012

Penyesalan dan Motivasi (Sejarah)

Pagi ini ngga tau kenapa emang ngga bisa tidur setelah seharian disibukkan dengan kuliah, shooting, rapat, dan nonton festival dragon. Seharusnya badan capek dan wajib istirahat, besok juga kuliah pagi, badan juga lagi flu, tapi mungkin ini cara Tuhan buat nyadarin saya tentang "sejarah". Berawal dari kebiasaan saya membaca KOMPASIANA di www.kompasiana.com, saya bertemu dengan tulisan dari Ghumi yang memberikan judul "Motivasi Menciptakan Sejarah Pribadi" pada tulisannya. Setelah saya baca, saya pahami, saya hayati, tiba-tiba perasaan saya sesak. Saya menyesal, karena selama ini saya terlalu meremehkan sejarah hidup saya yang menurut saya semuanya pahit. Padahal apapun keadaannya, sejarah tetaplah sejarah, sesuatu yang pernah ada dalam hidup kita.

Yaahh, saya mungkin terlalu angkuh dan naif untuk menyimpan segala sesuatu tentang masa lampau saya. Tentang kenangan keluarga saya, tentang mantan sahabat saya, dan semua yang membuat saya kadang menitihkan airmata. Sahabat yang meninggalkan saya karena hal yang tak jelas pun lebih menyakitkan dibanding dikhianati kekasih. Mungkin hanya itu sejarah yang bisa dan mau saya ingat. Karena saya benar-benar tak ingin mengingat masa lalu saya. Begitulah saya sampai sedetik sebelum saya baca tulisan kakak Ghumi.

Sedetik setelah saya baca, saya termotivasi dan bertekad untuk menyimpan segala sesuatu tentang hidup saya. Baik dan buruk. Dimulai dari tahun 2012 ini, karena saya ingin memulai hidup baru dengan suasana dan hati yang baru. Saya tak lagi ingin menyesali keegoisan saya kemarin-kemarin dengan menghapus segalanya yang berhubungan dengan masa lalu saya.

Saya pun bisa menerima orang-orang terdekat saya yang ternyata masih menyimpan rapi sejarah hidup mereka, karena ternyata sejarah itu adalah sesuatu yang penting. Setidaknya untuk diri sendiri, asalkan mereka bisa menghargai saya, saya pun akan jauh menghargainya :)

Terimakasih kakak Ghumi, untuk pencerahan dari tulisan kakak, semoga saya bisa menjalani hidup saya kembali dengan perasaan lapang :)) AMIN..!!!

“Meriahnya Imlek di Yogyakarta dengan Festival Naga Barongsai”


Salah satu atraksi yang ditampilkan apik oleh "Lung Shen Hwee" dari Salatiga pada puncak acara Dragon Festival (6/2/2012). Festival ini merupak pertama kalinya diadakan di Indonesia, bertempat di sepanjang jalan Malioboro-Ahmad Yani yang digelar untuk menyambut hadirnya tahun Naga Air bagi kepercayaan Tionghoa. (foto/prasetya yudha)



Perayaan imlek di kota Yogyakarta yang dimulai dari tanggal 2-6 Februari 2012 malam ini mencapai puncak, dengan menghadirkan 10 barongsai dari beberapa daerah, diantaranya Salatiga, Kebumen, Semarang, dan Yogyakarta. Acara yang dinamai Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY)  ke-VII 2012 mengangkat tema “Mengukuhkan Kebhinekaan Yogyakarta” ini dimulai pukul 6 sore dan berakhir tepat pukul 8 malam. Seluruh warga melebur menjadi satu di sepanjang jalan Malioboro-Ahmad Yani, yang mengambil start di Taman Parkir Abu Bakar Ali dan finish di Tititk Nol Kilometer.


Sebelumnya, acara yang terpusat di Jalan Ketandan, tepatnya di sepanjang gang yang bertempat di sebelah Mall Ramayan ini menyajikan berbagai macam acara, mulai dari tari-tarian kolaborasi Didi Nini Thowok, band, sulap, karaoke, hingga ketoprak yang diadakan di panggung utama.


Festival Naga Barongsai ini adalah yang pertama kali diadakan di Indonesia. Menurut salah satu panitia, acara ini diselenggarakan untuk menyambut tahun naga air yang jatuh pada tahun 2012. Festival yang memperebutkan hadiah total sebesar 27 juta ini berlangsung sangat meriah. Tak heran jika ada beberapa orang yang terpancing emosinya saat petugas meminta mereka tidak keluar dari batas yang sudah disiapkan. Adapula seorang fotografer yang sempat memaki seorang petugas yang berniat untuk menyelamatkannya dari riuhnya barongsai yang cukup besar dari pasukan ‘Naga Doreng’ Yon Arhanud SE-15 Kodam IV Diponegoro dengan pasukan pembawa Liong sebanyak 9 orang.


“Awas, minggir-minggir, sepatune gede lho, berdiri semua”, salah satu kalimat petugas yang berjaga mengamankan lancarnya atraksi dari pemain urutan ke-8 itu. Berdesakan di acara yang super meriah dan tak ada pengamanan khusus untuk para lansia dan anak-anak ini sungguh sesuatu yang menyedihkan di tengah riuhnya penonton yang tak kenal umur. Banyak pula orang tua yang sengaja menyuruh anak-anak mereka berdiri di depan agar dapat melihat dengan jelas atraksi yang ditawarkan.  Jika diperhatikan, semestinya para orang tua tidak membiarkan anak-anak mereka berada di depan, karena tak menutup kemungkinan bahwa acara tersebut akan memakan korban jika mereka lengah menjaga anak-anak mereka.


Tak hanya liong yang ditampilkan dalam acara itu, namun dihadirkan juga para penari dengan busana putih berbalut sifon dan lampu-lampu bercorak hijau dan menarikan tarian kipas dipandu oleh penari lelaki yang berdandan wanita menggunakan rambut pasangan berwarna.


Bahkan Bregodo Lombok Abang dari Keraton juga ikut menghiasi hiruk pikuk perayaan imlek tahun ini. Dibalut topi khas bergaya lombok merah, para bregodo tampak menghayati setiap langkah mereka, meskipun terdengar sangat kontras musik yang mereka mainkan dengan musik dari para pemain barongsai.


Kemeriahan imlek di Yogyakarta tak berhenti sampai disitu, adapula naga barongsai terpanjang yang dimiliki Yogyakarta dengan panjang lebih dari 130 meter yang dibawakan oleh 200 pasukan dari Yonif 403 Yogyakarta. Penampilan Naga Liong terpanjang ini mengalami kesulitan saat akan beraktraksi. Hal ini dikarenakan beratnya Naga dan sempitnya tempat yang akan digunakan untuk menunjukkan aksi-aksi indahnya. “Ya, Tuhan, gede banget”, ujar salah satu penonton yang terperangah melihat besarnya Liong yang dibawakan oleh para TNI tersebut di pinggir pagar.


Memang, perayaan imlek setiap tahun mengalami peningkatan, baik dari sajian, maupun penonton. Hal ini disebabkan sejak tahun 1999, larangan tentang adanya segala jenis perayaan bagi kaum minoritas, dalam hal ini adalah etnis Tionghoa oleh pemerintahan Soeharto resmi dihapuskan dengan keputusan Gus Dur yang saat itu baru 10 hari menjabat sebagai Presiden RI. Sejak saat itu pula, berbagai jenis acara yang berbau etnis sering terdengar publik, tak luput juga ‘Imlek’, yang merupakan tahun baru untuk tanggalan Cina.


Selain untuk memperingati lahirnya tahun naga air, dilihat dari temanya, acara ini juga bertujuan untuk menyatukan keberagaman budaya di kota Yogyakarta. Seperti yang kita tahu, Yogyakarta merupakan kota istimewa dengan berbagai macam kebudayaan dan perbedaan menjadi satu. Tak peduli dari suku mana dan berbahasa apa, Yogyakarta tetap mampu menyatukan dan menerima mereka untuk hidup rukun dan damai di tanah istimewa ini.




hello :)

heyyooo,,
huwaa,, udah setahun (mulai dari 2011 sampai 2012) blog ini terabaikan :( maafkan saya yah blog ganteng, tak bermaksud menghianati dan melupakan, tapi memang kesibukkan tak memungkinkan :(
hari ini, saya janji akan memulai menjamahmu kembali ke dalam tangan saya :D
saya akan mulai lagi menuangkan cerita-cerita saya, dimulai dari perayaan imlek yah :))
okeeii, lanjut ke page selanjutnya yah :)