Sabtu, 15 November 2014

Petrichor #3rd

Hari ini Sabtu malam.
Harinya yang berpacaran keluar leluasa dan yang sendiri hanya meratapi asa.

Disela rinduku yang semakin hari semakin menjadi, tetap pada sosok yang sama,
aroma ini hadir lagi setelah lama tak saling sapa.

Aroma tanah selepas hujan.
Yang sering kita lewatkan,
Berdua, dulu.

Kamu tau itu berarti apa?
Jika hujan saja masih mau menyapa tanah, yang setiap orang tau mereka berjauhan.
Lantas kenapa kita harus saling memalingkan rasa, yang kita berdua pun tau ada yang tak pernah hilang sejak mereka bersentuhan di dimensi lain.

Ahh, aku tau alasanmu.
Kamu memang tak pernah bisa menyakiti hati wanita.
Dan jika ditanya kembali, siapakah orang paling bisa membuatku bahagia, kamu pasti tau jawabnya.
Dan petrichor malam ini menitipkan sebagian rindu yang terpendam tahunan

Selamat hari Sabtu malam dan terimakasih sudah hadir lewat aroma ini, kembali

Minggu, 02 November 2014

Untitled 2

Seandainya hujan lebat sekali, tentu tenanglah hati.

Malam ini, gundah menghampiriku, kembali.
Tepat ketika hujan hanya memberikan harapan tak pasti.
Aku mulai merasa sepi..
Seperti saat kita mulai dipisah jarak, kini..

Tak ada teman sepantas kamu untuk kupuji.
Tak pernah ada yang mampu mengganti tempatmu, disini.
Kamu seperti semut diantara tumpukan gula.
Seperti kumbang dengan serbuk bunga.

Aku mulai risau,
Bingung,
Sampai kapan kamu terus menjadi angan yang pernah terlupakan,
Dan kini mencoba hadir kembali?

Sosokmu,
Yang selalu bisa tenangkanku,
memberikan kesejukan saat tangisku jatuh,
Menemani dengkuranku lewat tekhnologi yang disebut telepon,
Selalu kuingat setiap kata dulu..

Kamu,
Lepaskan kita..
Atau seharusnya berteriaklah padaku agar lupakanmu!
Karena sampai bergantinya presiden, bayangan ini masih hampa..
Meski itu hanya rekayasaku saja untuk mencoba menghapusmu..
Karena menghilangkan namamu, butuh jutaan penghapus..
Jadi bagaimana mungkin aku mencoba menghilangkan semua kenangan kita

Sudah hampir tahun keempat sejak kita,
tak lagi jadi yang diimpikan seperti harapan membesarkan keluarga kecil kita
di kota Solo itu

-Surabaya, 2 November 2014

Selasa, 28 Oktober 2014

Terjebak Nostalgia

Beberapa orang sudah mulai pandai untuk mengiyakan bahwa ia mampu melupakan kenangan..
Tapi beberapa lainnya justru mulai jengah dengan kemunafikan yang ia coba tumbuhkan diantara perasaan terjebak yang disebut "iba"..

Sudah tiga tahun sejak pergimu,
masih ada rasa yang tinggal,
yang hilang datang,
yang akhir-akhir ini semakin kencang terdengar..
Bukankah kini kita sama-sama mencoba bahagia dengan pilihan kita dan kesepakatan yang pernah kita sepakati, dulu?

Jangan pernah menjebakku dengan lima tahun yang pernah kita lewati bersama..!

-Surabaya, 27 Oktober 2014-

Minggu, 19 Oktober 2014

Untitled

Hari ini rindu itu kembali hadir.
Diantara puing-puing patah hati yang coba diabaikan.
Kamu,
hadir kembali disekelabat ingatan lalu.

Akh.. selalu begini. Aku selalu mengingat baikmu.
Atau memang kamu tak pernah buruk dimataku?
Entahlah..
Tapi ini menyiksaku..

Teringat kembali pertanyaan, "Kamu baik-baik aja kan?", sambil erat menggenggam tanganku.
Mata itu..
Yang tak pernah berbohong, bahwa pernah ada "saling" diantaranya..

Malam ini, kembali.. dengan berbagai alunan musik yang pernah kita dengarkan selama 5 tahun 7 bulan..
Yang berakhir di bulan yang sama saat rinduku ini menggebu, dengan pelukan terhangat.

Sampai detik ini, sesal itu masih terus membekas.
Maaf..

-Surabaya, 19 Oktober 2014-

Rabu, 08 Oktober 2014

Sembilan - Sepuluh

Angka ini bukan ada karena dipilih, tapi Tuhan sudah menggariskannya untukmu. Tentang bagaimana kamu menikmatinya, silahkan beri pilihan untuk kamu pilih sendiri mana yang baik untukmu.

Sembilan - sepuluh sampai di kepala dua dengan ekor tiga.
Memaknai dewasa tanpa harus terlihat tua.
Menjelajahi dunia, membawa tangis dan tawa.

Apa yang patut dirayakan tanpa menengadahkan tangan kepadaNya?
Setidaknya, kita punya cara yang berbeda. Meski tak lagi bersama di waktu yang sama, doa terbaik untuk sembilan - sepuluh masih melambung disana.

Selamat mengulang sembilan - sepuluh untuk satu diantara dua manusia yang diciptakan bersamaan.
Sekarang kita berada dititik yang sama, makhluk Tuhan berekor tiga! :)

Surabaya, 9 Oktober 2014

Senin, 22 September 2014

Laut dan Gunung #1

Bagaimana bisa aku, mengalihkan pandanganku untuk melewatkanmu, yang begitu mendekati sempurna.
Bukan hanya tentang bagaimana kamu denganku, tapi juga kamu dengan yang lain.

Melihatmu lagi, sore itu, didepan mimbar, membawakan kedewasaan yang tak dimiliki mereka seusiamu.
Memperhatikan setiap gerak dan tawa yang selalu merekah di setiap pertanyaan dari anggotamu.
Ahh, perasaan ini, yang diam-diam terus memikirkanmu. Sudah lama, mungkin sejak kita masih di tempat yang sama.
Caramu memperlakukan yang lain, makin membuat perbedaan itu tak nampak.
Aku selalu suka memperhatikanmu dari jarakku.
Dari jarak yang begitu jauh, tapi benar-benar terasa dekat.
Mendoakanmu, meski dengan cara berbeda.
Katanya, mencintai diam-diam itu romantis. Ia adalah cinta sejati yang tak terungkap.
Aku hanya berharap itu benar, sampai saatnya nanti, kita tidak dipisahkan karena perbedaan ini.

Untukmu, yang sudah lama selalu kuperhatikan.
Yang rela menunggu, meski menyakitkan.
-laut dan gunung-
Surabaya, 22 September 2014

Sabtu, 20 September 2014

*9

Tak sedikit orang memiliki angka membahagiakan bagi hidupnya.
Dan aku memilih 9 sebagai moment terindah.

9 yang selalu kurindu,
9 yang selalu ada disetiap doa,
9 yang tak pernah melewati batas normal,
9 yang selalu menjaga hati yang sedang tak nyaman,
9 yang bisa merenggut sayang setiap orang disekelilingku,
9 yang rela memberikan setiap waktunya demi orang yang disayangnya,
9 yang tak pernah lelah mengingatkan, bahwa kita disatukan atas ijinNya,
9 yang tak pernah berpikir untuk berjauhan, meski jarak terus mengusik,
9 yang bertahan pada lamanya waktu,
9 yang masih membekas, dan mungkin tak pernah bisa hilang!

Dengan siapapun kita, semoga bahagia selalu menyertai :)
Tentang siapa yang terbaik, semesta pun tau, siapa jawabnya :)))

-Surabaya-

Senin, 08 September 2014

Tanpa Judul


Pernah ada perbincangan yang meronta dalam imajii.
Co: "Apakah sayang terlihat dari seberapa banyak ia berkata AKU CEMBURU?"
Ce:  "Emm,, mungkin.."
Co: "Kalau begitu, boleh aku bilang sedang cemburu?"
Ce: "Have you a reason?"
Co: "Aku juga tak tau, karena hatiku selalu berkata bahwa aku sedang tak baik akan dirimu."
Ce: "Tapi aku sedang baik."
Co: "Iyah, aku sadar, tapi bolehkah aku cemburu?"
Ce: "Boleh."
Co: "Apakah kau tak merasakan hal yang sama?"
Ce: "Yah, sering, jauh sebelum kau bilang, aku juga merasakannya."
Co: "Lantas, kenapa tak kau katakan?"
Ce: "Apakah menurutmu aku lebih mementingkan rasa cemburuku daripada percayaku yang teramat kepadamu?"
Co: "... "
Ce: "Aku mencintaimu, sayang, tapi aku juga tak bisa bersikap bahwa kau HANYA milikku, tanpa memikirkan kau akan bersama yang lain, disekelilingmu."
Co: "Maafkan aku.."
Ce: "Untuk apa?"
Co: "Untuk selalu kurang percaya karena cemburuku."
Ce: "Hanya sebuah garis dari rangkaian gambar yang pernah kita buat, ketika garis itu menghilang, tak akan ada gambaran sempurna, sayang."
Co: "Aku mencintaimu dengan jantungku"
Ce: "Dan aku pun menyayangimu dengan hidupku."

Melepasnya dengan pelukan tak bersyarat, hangat, dan menenangkan :)

Ketika otak meracuni segala canda dan haru yang ada, kekecewaan menguasai segala bentuk kebahagiaan. Sampai ketika saat itu tiba, dan aku harus meninggalkanmu.

"Maaf sayang, bukan ku menyembunyikan beberapa detikku darimu, tapi aku hanya tak ingin kau merasa khawatir dengan segala keadaanku. Saat kau membacanya, mungkin aku sudah berada tenang dikedalaman mimpimu dan bersamaNya. Aku hanya bisa berharap akan ada penerus kebahagiaan kita, kelak."

Yours,
Wanitamu

Minggu, 07 September 2014

Akhir!

"Aku adalah apa yang pernah ada di masa lalu. Begitupun kamu."

Setiap kita pernah melewati rangkaian cerita yang entah terbungkus tawa, tangis, bahagia, rindu, ataupun sebagainya. Kita tak bisa mengelak bahwa masa lalu adalah apa yang membuat kita berdiri, saat ini, berteman dengan segala latarbelakangnya.
Sebagaimanapun kita berusaha menghilangkan jejaknya, ia tak akan pernah benar-benar terhapus.
Layaknya kertas putih yang ingin kita isi dengan berbagai warna.
Warna yang ingin diabadikan dalam setiap moment hidup kita masing-masing. Setelah terisi, tak mungkin ia kembali seperti semula. Sekuat apa kita menghapusnya, akan tetap membekas, membawa ingatan yang dalam hati kecil sebenarnya masih ingin kita kenang.

Sebatas mengenang, tak bermaksud yang lain. Karena, sekali lagi, sekuat apa kita mencoba bertahan, semua akan bertemu pada titik yang sama, bahwa kita tidak disatukan Tuhan. Ia sudah menyiapkan rencana lain untuk kita "bahagia"! Dan cara ampuh yang paling susah adalah IKHLAS.
Mengikhlaskan perjuangan, yang pada akhirnya hanya menyakiti masing-masing dari kita.

Sekarang bukan saatnya bermain di halaman yang sama.
Bukan waktu yang tepat untuk terus menghakimi diri karena kesalahan masa lalu ataupun perjuangan yang sia-sia.
Menatap ke depan dengan selalu memohon untuk kita selalu bahagia dengan pilihan masing-masing dan juga membahagiakan apa yang menjadi pilihan kita!
Kamu adalah masa lalu terbaik yang pernah ada di rangkaian cerita hidupku, tapi ia, adalah masa depan terbaik yang Tuhan kirim untuk mengisi ruang yang telah lama terluka :')

Kita memang pernah ada, bukan berarti kita akan terus ada :')
Selamat tinggal kenangan, semoga Tuhan selalu mempertemukan kebaikan dan kebahagiaan untuk kita semua :'))

Rabu, 20 Agustus 2014

Secangkir Gerimis

Keinginan terindah yang paling tulus hanyalah ingin menghabiskan senja dengan secangkir teh hangat berteman gerimis, denganmu. Bercerita tentang pagi yang biru dan malam yang kita citakan.
Membiarkan beberapa cangkir terisi oleh buliran rindu yang lama tak bertemu untuk saling menyapa. Mengilaskan ingatan akan masa lalu yang tak terselesaikan.
Indah bukan, ketika rasa yang terpendam saling diungkapkan, kemudian berpeluk penuh kasih.
Iya, kita!
Kita yang sedang menunggu waktu berpihak. Berbalik bersamaan dalam hitungan ke-3. Melihat jelas tentang masa depan yang sering kita perbincangkan. Hal yang tak perlu lagi disembunyikan.
Kita bahagia, kini, ataupun kelak, semoga :')

-Jogja, 20 Agustus 2014, 08.14
Kamar, bersama ikan yang sedang mencoba untuk memejamkan mata-

Kamis, 14 Agustus 2014

#1

-Kamu bilang, kita bisa bertemu diantara gunung dan pantai. Mengisahkan rindu yang terlampau dalam.

-Kemarin, aku liat bintang persis sebelum bulan purnama. Entahlah, kenapa ingatanku langsung bersemayam pada kita.

-Kalo kita tak disatukan, mungkin Tuhan masih inginkan perbedaan.

-Aku memujimu dalam diam, terlebih ketika kamu bertemu dengan Tuhanmu, dan aku dengan Tuhanku.

-Perbedaan, tak membuat namamu tak kusebut dalam pertemuanku denganNya.

Senin, 21 Juli 2014

Hujan di Mimpi - Banda Neira

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

Semesta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

Kamis, 29 Mei 2014

Kunang-kunang

Nampaknya rindu itu semakin terlihat ketika hanya ada aku, dan gambarmu yang selalu kulihat sembari senyum mengembang dan ingatan tentangmu kembali.

Hey, kamu tau, hampir setiap doa selalu bersama setiap tetes air mataku.
Tetesan air mata rindu dan rasa yang terpendam. Memandangimu dari jauh, hanya itu yang aku mampu saat didekatmu. Sampai di akhir kita melepaskan balon putih dan berharap dipertemukan lagi oleh angin yang membawanya pada kedamaian.

Kamu, salah satu dari kalian yang diciptakan serupa. Kutitipkan salamku lewat burung pagi yang berkicau di ranting, juga katak yang bersenandung di senja hari, bahkan malam, jangkrik tak ingin kalah dengan kawanannya. Dan satu hal lagi, kunang-kunang yang lebih memilih diam dengan terangnya.
Sepertiku, memilih diam untuk mengagumimu :)

Yogyakarta, 29 Mei 2014

Minggu, 25 Mei 2014

Pertemuan Singkat

Lucu itu, ketika kita sama2 ketauan sedang saling mencuri gambar masing2 dan bertatap tanpa sepatah kata.
Semoga Tuhan mempertemukan lagi kita dengan keadaan lebih baik ♥

Kamis, 17 April 2014

"Diam"

Ketika suara hujan mengantarku pada saat kita dipertemukan di persimpangan itu. Kita bertatap tanpa atap. Menatap hingga akhirnya sadar bahwa air sudah menggenangi kaki kita seperempat.
Tepat di bulan Januari dengan sisa hujan yang sedikit memusingkan, kadang hadir, kadang enggan, entah memang rencana Tuhan atau aku yang terlalu mengharapkan, kita bersama sekedar berbagi payung. Ahh, rasa-rasanya waktu ikut berpesta dan berhenti untuk sejenak menikmati rasa kagum akan sosokmu. Sosok yang rela terkena rembesan air yang menetes dari ujung payung yang hanya setengah menutupi tubuhmu.
Aku pun mulai berprasangka dan menerka-nerka siapa kamu.

Sampai di suatu sore, diantara berjubel manusia yang sedang berpesta, entah apa, aku melihatmu lagi, memakai kaos bertuliskan "I'm Superman". Sedikit penekanan pada tulisan yang merupakan cerminan sikapmu dari pandanganku. Kamu memang superman, kamu lelaki super. Kamu lelaki pertama yang mampu membuat detik di pikiranku berhenti. Saat itu, aku hanya mampu memandangmu dari jarak yang tak begitu nampak. Terlalu pelik lidahku untuk sekedar menyapamu dengan sebutan "Hai".

Bulan keduapuluhsembilan setelah pertemuan yang diam-diam masih sering kunikmati, lagi-lagi kita disatukan dengan acara di kota itu yang mengharuskan kita bersama untuk waktu yang sedikit melelahkan. "Hei, kamu", itu kata pertama yang tiba-tiba keluar dariku. Dan kamu membalasku dengan senyum yang tak pernah kulupa indahnya dan bercerita sedikit sampai senyum bulan sabit menyapa. Kita dekat, tapi tak lantas kagumku memudar, malah semakin menjadi.
Dibeberapa kesempatan kita, kamu memberikan ruang buatku untuk semakin menikmati apa yang disebut "diam".

Dan benar-benar diam saat suatu siang kudengar telepon dirumah berdering dan kudapati sahabatku mengabarkan suatu yang sampai sekarang tak ingin kuulang.
Kamu, masih menakjubkan sama seperti saat pertama itu. Kamu dengan pakaian rapi, berdasi dan memakai jas, tak lupa sarung tangan, dan papan skate tetap mempesona dan SUPERMAN. Diamku hingga kini, kalah oleh diammu. Diam yang membuat banyak orang bersedih, bahkan ada yang tersungkur dan menangis sejadinya.

Selamat jalan, kamu. Hari ini kukenang kamu dengan cerita kita yang berawal dengab diam dan berakhir pula oleh diam. Diamku dan diammu di surga. Semoga Tuhan memberimu tempat bermain skateboard selayaknya ketika kamu nyata. Kamu selalu ada dalam diamku, dan ada saat diamku bersamaNya :")

Yogyakarta, April, 17, 2014