Kamis, 17 April 2014

"Diam"

Ketika suara hujan mengantarku pada saat kita dipertemukan di persimpangan itu. Kita bertatap tanpa atap. Menatap hingga akhirnya sadar bahwa air sudah menggenangi kaki kita seperempat.
Tepat di bulan Januari dengan sisa hujan yang sedikit memusingkan, kadang hadir, kadang enggan, entah memang rencana Tuhan atau aku yang terlalu mengharapkan, kita bersama sekedar berbagi payung. Ahh, rasa-rasanya waktu ikut berpesta dan berhenti untuk sejenak menikmati rasa kagum akan sosokmu. Sosok yang rela terkena rembesan air yang menetes dari ujung payung yang hanya setengah menutupi tubuhmu.
Aku pun mulai berprasangka dan menerka-nerka siapa kamu.

Sampai di suatu sore, diantara berjubel manusia yang sedang berpesta, entah apa, aku melihatmu lagi, memakai kaos bertuliskan "I'm Superman". Sedikit penekanan pada tulisan yang merupakan cerminan sikapmu dari pandanganku. Kamu memang superman, kamu lelaki super. Kamu lelaki pertama yang mampu membuat detik di pikiranku berhenti. Saat itu, aku hanya mampu memandangmu dari jarak yang tak begitu nampak. Terlalu pelik lidahku untuk sekedar menyapamu dengan sebutan "Hai".

Bulan keduapuluhsembilan setelah pertemuan yang diam-diam masih sering kunikmati, lagi-lagi kita disatukan dengan acara di kota itu yang mengharuskan kita bersama untuk waktu yang sedikit melelahkan. "Hei, kamu", itu kata pertama yang tiba-tiba keluar dariku. Dan kamu membalasku dengan senyum yang tak pernah kulupa indahnya dan bercerita sedikit sampai senyum bulan sabit menyapa. Kita dekat, tapi tak lantas kagumku memudar, malah semakin menjadi.
Dibeberapa kesempatan kita, kamu memberikan ruang buatku untuk semakin menikmati apa yang disebut "diam".

Dan benar-benar diam saat suatu siang kudengar telepon dirumah berdering dan kudapati sahabatku mengabarkan suatu yang sampai sekarang tak ingin kuulang.
Kamu, masih menakjubkan sama seperti saat pertama itu. Kamu dengan pakaian rapi, berdasi dan memakai jas, tak lupa sarung tangan, dan papan skate tetap mempesona dan SUPERMAN. Diamku hingga kini, kalah oleh diammu. Diam yang membuat banyak orang bersedih, bahkan ada yang tersungkur dan menangis sejadinya.

Selamat jalan, kamu. Hari ini kukenang kamu dengan cerita kita yang berawal dengab diam dan berakhir pula oleh diam. Diamku dan diammu di surga. Semoga Tuhan memberimu tempat bermain skateboard selayaknya ketika kamu nyata. Kamu selalu ada dalam diamku, dan ada saat diamku bersamaNya :")

Yogyakarta, April, 17, 2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar