Senin, 08 September 2014

Tanpa Judul


Pernah ada perbincangan yang meronta dalam imajii.
Co: "Apakah sayang terlihat dari seberapa banyak ia berkata AKU CEMBURU?"
Ce:  "Emm,, mungkin.."
Co: "Kalau begitu, boleh aku bilang sedang cemburu?"
Ce: "Have you a reason?"
Co: "Aku juga tak tau, karena hatiku selalu berkata bahwa aku sedang tak baik akan dirimu."
Ce: "Tapi aku sedang baik."
Co: "Iyah, aku sadar, tapi bolehkah aku cemburu?"
Ce: "Boleh."
Co: "Apakah kau tak merasakan hal yang sama?"
Ce: "Yah, sering, jauh sebelum kau bilang, aku juga merasakannya."
Co: "Lantas, kenapa tak kau katakan?"
Ce: "Apakah menurutmu aku lebih mementingkan rasa cemburuku daripada percayaku yang teramat kepadamu?"
Co: "... "
Ce: "Aku mencintaimu, sayang, tapi aku juga tak bisa bersikap bahwa kau HANYA milikku, tanpa memikirkan kau akan bersama yang lain, disekelilingmu."
Co: "Maafkan aku.."
Ce: "Untuk apa?"
Co: "Untuk selalu kurang percaya karena cemburuku."
Ce: "Hanya sebuah garis dari rangkaian gambar yang pernah kita buat, ketika garis itu menghilang, tak akan ada gambaran sempurna, sayang."
Co: "Aku mencintaimu dengan jantungku"
Ce: "Dan aku pun menyayangimu dengan hidupku."

Melepasnya dengan pelukan tak bersyarat, hangat, dan menenangkan :)

Ketika otak meracuni segala canda dan haru yang ada, kekecewaan menguasai segala bentuk kebahagiaan. Sampai ketika saat itu tiba, dan aku harus meninggalkanmu.

"Maaf sayang, bukan ku menyembunyikan beberapa detikku darimu, tapi aku hanya tak ingin kau merasa khawatir dengan segala keadaanku. Saat kau membacanya, mungkin aku sudah berada tenang dikedalaman mimpimu dan bersamaNya. Aku hanya bisa berharap akan ada penerus kebahagiaan kita, kelak."

Yours,
Wanitamu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar