Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 April 2012

Yang Lain Berdemo Yang Ini Asik Memukul Irama


            Dipukul  dan bernada, membentuk irama yang menggoyangkan kaki, tangan, dan beberapa anggota tubuh. Itulah perkusi, instrumen asal Afrika yang berasal dari kata percussio (memukul) dan percussus (kata benda yang berarti pukulan) yang dikemas secara apik oleh teman-teman dari KESPER.
            KESPER merupakan KKM (Kelompok Kegiatan Mahasiswa) Jurusan Musik Institut Seni Indonesia, khususnya mayor perkusi yang didirikan pada tanggal 7 Mei 2001 dengan anggota awal hanya 10 orang hingga saat ini mencapai 50 orang dan semuanya aktif dalam kegiatan musik khususnya perkusi.
            Beberapa jenis instrumen perkusi ikut meramaikan acara bertema “KESPER Tour Ing Kampus #2, Klotekan” ini, antara lain adalah Marimba, Bongo, Chinese Cymbal, Chymes Gong, Grand Marimba, Vibraphone, Concert Tom-Tom, Grand Cassa, Log Drum, Drum Set, Conga, Crotales, dan Cow Bell.
            Acara yang digelar, Sabtu 31 Maret 2012 di Stage Tari Tedjokusumo, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta ini mampu memukau penonton dengan dibuka oleh dua MC kocak Ovy dan Punyx. Untuk repertoar pertama yang ditampilkan adalah ‘The Music of James Bond’ yang berkolaborasi dengan Marching Band Citra Derap Bahana Universitas Negeri Yogyakarta dengan jumlah pemain perkusi 10 orang. Karya ini diadaptasi dari film ‘James Bond’, kecerdikan detektif ini merupakan format shymphoy brass band, yang kemudian diadaptasikan untuk ensemble perkusi oleh Buncis. Ada tiga bagian dalam pementasan pembuka ini, bagian pertama dibangun dengan suasana jazz, bagian kedua bersifat lambat atau ballad, dan ditutup dengan suasana rock.
            Repertoar kedua adalah Taiko, sebuah instrumen berupa bedug yang berasal dari Jepang. Semangat dan pakaian serta rambut ala Jepang yang ditampilkan membuat penonton serasa dibawa dalam suasana negeri Sakura. Instrumen yang dibawakan adalah concert tom, bongo, dan grandcassa.
            Penampilan lucu, menyenangkan, dan unik ditampilkan pada repertoar ketiga dengan judul “Plink Plank Plunk” yang dimainkan oleh 6 orang dengan masing-masing memainkan instrumen Marimba 1, 2, Xylophone, Vibraphone 1, 2, dan Glockenspiel. Karya ini dibuat dalam format ansamble string, yang kemudian di adaptasi untuk ansamble perkusi. Menciptakan suasana yang lincah dengan pemilihan nada yang menyenangkan untuk didengar adalah tujuan karya ini, yang juga digunakan sebagai musik tema dalam acara “The Popular Primetime Television Game Show I’ve Got a Secret 1952-1961”.

Salah satu penampil KESPER yang membawakan nuansa Bali. 
(foto/wisnu locker)
Berbagi Ilmu 
            Sesuai dengan temanya “Tour Ing Kampus”, KESPER juga mengajak teman-teman UNY untuk ikut unjuk kebolehan, salah satunya adalah Dhimas Ade Setiyawan, mahasiswa Tekhnik Sipil angkatan, Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2008 ini menunjukkan aksinya dengan solo quint tom atau multi tenors. Ia mengawali kegemarannya saat masih kecil, “Kebetulan saya sejak SMP pernah main band dan saya teruskan di kuliah dengan mengikuti Marching Band di kampus,” jelas lelaki asal Klaten ini. Untuk judul yang dibawakan adalah Kill The Bees, dimana konsep ini pernah meraih juara III GPMB 2011 untuk kategori solo percussion, yaitu kejuaraan nasional Marching Band di Indonesia yang diadakan di Senayan, Jakarta. “Harapan saya semoga acara seperti ini bisa terus diadakan, selain bisa mengasah ilmu di bidang musik, saling tukar pengetahuan dan sharing bersama teman-teman ISI juga sangat menyenangkan,” imbuhnya.
            Acara yang akan terus digelar ke berbagai kota dan kampus ini banyak mendapat apresiasi dari para penonton, salah satunya Sinom Tyas, “Salut untuk KESPER dan CDB untuk aksi panggungnya malam ini, tontonan yang jarang sekali bisa kita saksikan di tempat lain.” Beberapa pengunjung lainnya juga mengomentari hal yang sama, “Yang seperti ini yang layak untuk dilihat,” ucap Marta Nambilu, salah satu penonton yang antusias dengan acara ini.
            Persiapan yang memakan waktu satu bulan ini tak sedikit mengalami kesulitan. “Karena konsep ini adalah Tour Ing Kampus, KESPER mengajak tuan rumah untuk berkolaborasi, nah salah satu kesulitannya mungkin latihan kekompakan antara Marching Band dari UNY dengan kami. Repertoar pun, kami mengikuti CDB yang lebih memberikan konsep panggung, seperti Pirates of the Carribean, Dancing Queen, dan The Music of James Bond,” jelas ketua panitia Ryan Saputro yang merupakan mahasiswa Jurusan Musik Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Khusus untuk acara ini, dana yang didapat selain dari kampus, juga dari para sponsor dan donatur serta hasil ngamen di beberap tempat, seperti di Malioboro yang diadakan sebanyak tiga kali dan Sunday Morning satu kali. “Pertama kali diadakan adalah pada tahun 2003 oleh para tetua kami di KESPER dan kami sebagai penerus akan terus mengembangkan, kemungkinan ke Bandung, Malang, dan untuk closing touring ini tetap di Jogja,” imbuh lelaki yang juga menunjukkan kebolehan dengan soloperformance.
            Kemegahan acara dengan menampilkan 15 repertoar ini ditutup dengan penampilan Suite for Solo Drum Set and Percussion Ensemble, yang menggunakan pola-pola Latin dan Afro-Kuba dengan banyak bagian untuk solo drum di dalamnya. Di tengah bagian juga terjadi improvisasi tanya jawab antara penonton dan pemain drum set juga instrumen perkusi lainnya yang membuat penonton tertawa. Dan diakhir penampilan, para pemain turun dan mengajak penonton untuk naik ke atas panggung dan bermain bersama dan semua pengisi acara ikut memeriahkan panggung. Satu kata yang diucapkan diakhir adalah “hidup terus musik Indonesia!”

Sabtu, 11 Februari 2012

ISI Bersatu Tak Bisa di ISBI kan !


Proses pemasangan spanduk penolakan ISBI di depan pintu gerbang ISI Yogyakarta. (foto/bibeh)

Teatrikal penolakan ISBI yang diperankan oleh teman-teman dari ISI Yogyakarta. (foto/vyvy).


Bertepatan dengan hari PERS Nasional, Kamis (9/2), Institut Seni Indonesia mengalami kepadatan kampus yang sangat jarang terjadi, hal ini dikarenakan demo menolak konversi ISI menjadi ISBI. Dimana-mana berkumandang "ISI Bersatu Tak Bisa Dikalahkan" dengan toa merah menyala menandakan betapa kecewanya mereka kepada Dikti atas keputusan sepihak yang tak megadakan sosialisasi terlebih dahulu kepada warga yang terlibat.

"Yang ada mah tahu ISI, bukan tahu ISBI," ucap salah seorang demonstran yang juga mahasiswa ISI itu. "Untuk apa adanya perubahan nama ISI menjadi ISBI, wong fasilitas seperti kamar mandi aja masih memalukan seperti itu. Percuma banyak mahasiswa asing, tapi fasilitas masih aja buruk," jelas Rizal Su, salah satu mahasiswa Grafis, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta angkatan 2009. Memang tak sedikit yang menolak perubahan ini. Alasannya simple, karena mereka tak mau disamakan dengan perguruan tinggi yang sudah ada. Apakah dengan ditambahnya huruf "B" diantara "IS" di depan dan "I" dibelakang menjamin adanya penaikan kualitas akademika, yang jika dijabarkan justru akan banyak pengeluaran untuk mengadakan pembenahan, dari pemasaran, hingga hubungan dengan sekolah tinggi di luar negeri?

ISI resmi berdiri pada 23 Juli 1984, yang berawal dari gabungan 3 fusi, yaitu ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) tahun 1950, ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) tahun 1961, dan AMI (Akademi Musik Indonesia) tahun 1963. “Sejarah terbentuknya ISI yang panjang itu juga ngga semudah itu tiba-tiba ada, setiap perubahan mengalami peningkatan yang positif,” ujar Yoyon Bolang mahasiswa Fakultas Seni Rupa, Lukis 2009 saat dimintai keterangan mengapa ia ikut membubuhkan tanda tangan. Acara yang diawali dari depan pintu gerbang ISI dengan membentangkan spanduk bertuliskan ISBI dimana huruf B dicoret dengan warna merah itu memang menyiapkan beberapa rangkaian acara, diantaranya tanda tangan di atas spanduk besar, teatrikal seni, dan sablon gratis. "Perubahan itu perlu, tapi cukup lah,” imbuh Yoyon yang juga salah satu aktivis mahasiswa ini.

Semua biaya dan keperluan acara ini adalah iuran dari beberapa mahasiswa dan beberapa UKM, yaitu Sasenitala (Konservasi Seni dan Alam), Pressisi (Pers Mahasiswa ISI), KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik), Kailmas (Karya Ilmiah Mahasiswa), dan juga SFC (Saraswati Football Club). "Kegiatan ini memang atas nama UKM ISI Yogyakarta, yang dinaungi BEMI," jelas Agus Susanto, salah satu koordinator kegiatan yang merupakan mahasiswa Pedalangan 2010. "Kami akan tetap memperjuangkan ISI, sampai kapanpun," imbuhnya semangat.

Selain mahasiswa, hadir juga Direktur Pasca Sarjana, Prof. Drs. M. Dwi Marianto M.F.A, PhD yang mengawali wawancara di depan halaman Fakultas Seni Rupa, Jurusan Grafis. “Dikti harus membuat naskah akademik yang jelas dan untuk itu akan memerlukan waktu yang cukup lama, bisa enam bulan, bahkan dua tahun,” jelas Marianto yang juga menjadi staff pengajar S2. Selain itu, ia juga menambahkan untuk mengadakan perubahan,  perlu adanya sosialisasi dan pengkajian kembali apakah benar-benar dibutuhkan, melihat nanti akan lebih banyak pengeluaran untuk perubahan kop surat dan segala macam keperluan lain yang mendukung adanya perubahan tersebut. “Harusnya Dikti memberikan kejelasan tentang adanya ISBI, tidak tiba-tiba merubah sejarah ISI, dan diharapkan dari pihak ISI sendiri ikut memberikan pendapat, tidak hanya menunggu seperti sekarang ini,” imbuh Marianto saat diwawancarai.

Dalam tatanan akademik, ISI sudah memenuhi standart sekolah seni yang berbudaya dengan adanya mata kuliah antropologi seni, semiotika, sosiologi seni, dan kebudayaan. "Menurut saya, itu tak ada masalah dan tak perlu lagi mengganti nama, jika memang ingin lagi memasukkan unsur kebudayaan, tambahkan saja dalam prodi, bukan terus mengganti nama. Sekarang itu, yang dibutuhkan ISI adalah perbaikan dari yang sudah ada," sambung Marianto.

"Untuk BEMI sendiri baru dapat informasi kemarin (Rabu-red), karena penyelenggaranya adalah temen-temen dari UKM, tapi yang jelas kalau dari kami (BEMI) mendukung. BEMI sendiri sebenarnya sudah mempunyai wacana untuk merespon penolakan konversi ISI menjadi ISBI ini dalam bentuk dialog. Dimana kegiatannya adalah mengumpulkan semua mahasiswa ISI dan berbagi pengetahuan tentang seberapa besar pengetahuan teman-teman tentang ISBI ini. Menurut kami ini hanya spekulasi dari beberapa pihak, karena unsur politik yang terdapat di dalamnya,” jelas Namuri Migutuwio, mahasiswa Fakultas Seni Rupa, Jurusan Desain Komunikasi Visual ini saat dimintai keterangan. ISBI yang berawal dari wacana beberapa petinggi pemerintah ini memang belum jelas apakah akan segera disahkan atau hanya sekedar issu. “Yang jelas kami masih tetap menunggu kejelasan dari pihak Dikti tentang rancangan ISBI ini,” imbuh lelaki yang juga menjabat sebagai anggota BEMI divisi Penelitian dan Pengembangan.

Selain dari beberapa mahasiswa dan dosen, mantan Rektor ISI Yogyakarta yang juga menjabat sebagai senat Prof. Drs. Soeprapto Soedjono M.F.A, PhD ikut angkat suara. Ia menyatakan keberatan jika ISI harus diganti menjadi ISBI. “Saya yang sejak awal di ISI merasa sangat sedih, mau dikemanakan ISI yang sudah lama dan memiliki sejarah ini? Saya jadi tidak nyaman dengan adanya wacana akan perubahan ISI menjadi ISBI ini.  Padahal ISI sendiri belum dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, malah mau diganti ISBI. ‘B’ nya itu apa? Budaya yang bagaimana? Bagaimana pun ISI akan tetap ISI, tidak mungkin menjadi ISBI,” jelasnya disela-sela kesibukannya sebagai dosen Fotografi ISI Yogyakarta.

Terdengar desas-desus bahwa ia juga akan diangkat menjadi Rektor ISBI di daerah Kalimantan, ia pun menanggapi dengan santai, “Memang, wacana lain, di beberapa wilayah seperti Aceh, Sulawesi, Papua dan Kalimantan akan dibangun ISBI dimana untuk ISBI Aceh dilaksanakan oleh ISI Padang Panjang, ISBI Sulawesi oleh ISI Surakarta, ISBI Papua oleh ISI Bali, dan ISI Kalimantan diwakili dari ISI Yogyakarta dan saya diminta untuk menjadi Rektor disana, itupun saya belum dapat kepastian. Menurut saya itu bagus, tidak perlu merombak, tapi membangun baru di daerah luar Jawa yang memang belum terdapat sekolah seni yang berkompeten,” jelasnya sambil menunjukkan majalah yang memuat tentang dirinya untuk menjabat sebagai Rektor ISBI wilayah Kalimantan ini.

Saat ditanyai mengenai keinginan ISI ke depan, mantan rektor yang pernah menempuh pendidikan di ASRI angkatan 1974 ini mengatakan bahwa ISI akan dijadikan USI (Universitas Seni Yogyakarta). “Sebenarnya yang akan direncanakan ke depan adalah USI, dimana akan terdapat beberapa disiplin ilmu yang setara dengan Universitas lain, seperti Ilmu Pendidikan dan Manajemen. Hal ini yang seharusnya diwacanakan benar-benar, bukan mengganti nama,” imbuhnya.

 Pihak rektorat yang ditemui Sabtu (11/2) siang juga mengatakan ketidakjelasan akan wacana yang dilontarkan Dikti. “Apakah teman-teman yang mengadakan demo itu sudah paham betul dengan konsep dari ISBI? Saya tidak bisa mengatakan apakah akan menolak atau menerima untuk saat ini, karena kami belum menerima konsep dan kejelasan dari ISBI. Sampai sekarang, pihak Pemerintah belum mengatakan apa-apa mengenai ISBI kepada ISI. Saya pernah rapat sekali di Jakarta, tapi wakil yang mengundang tidak dapat menjelaskan konsepnya apa,” jelas Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Dr. A.M. Hermien Kusmayati yang diwawancarai di ruangannya.

 “Saya kira secara implisit memang pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan baru mewacanakan, kemudian dari koordinasi belum ada kejelasan yang cukup lengkap untuk dijadikan bahan pertimbangan. Dalam hal ini (ISI), di satu pihak menunggu kejelasan dari pemerintah, dan di sisi lain repot menanggapi respon masyarakat yang secara garis besar menolak. Kita ini sudah membangun pendidikan tinggi seni dari komponen-komponen ASRI, AMI, ASTI yang sudah hampir 62 tahun berdiri, dan itu sudah mengalami proses yang panjang, sehingga sudah kenyang berhadapan dengan problem-problem yang dihadapi. Secara normatif penyelenggaraan pendidikan tinggi sudah memenuhi syarat-syarat akademik yang diinginkan pemerintah. Nah sekarang yang diupayakan ISI sebenarnya hanya memantapkan status pendidikan kita yang demikian. Apa yang sedang kita jalanakan ini mengikuti norma dari pemerintah. ISI Yogyakarta sangat menyadari apa yang kita hadapi sekarang adalah proses dari pemantapan yang sedang membangun tatanan. Kita terbuka terhadap masukan-masukan dan evaluasi, tapi mohon juga pencapaian yang sudah kami dapatkan mendapat apresiasi yang positif dan tidak dilupakan,” jelas Dr. M. Agus  Burhan, yang saat ini menjabat sebagai Pembantu Rektor I, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

“Hal ini mencuat dikarenakan respon di media, padahal konsep ISBI sendiri belum tahu. Untuk masalah pendidikan itu kan tidak gampang, dokumen dari ISI menjadi ISBI sampai sekarang masih belum pasti. Apakah ini hanya pemikiran yang sekedar muncul begitu saja atau bagaimana, kami belum tahu. Kami masih menunggu kapan mereka akan memberikan kejelasan konsep dari ISBI sehingga kami bisa merespon tanggapan dari masyarakat,” imbuh Pembantu Rektor III, Drs. Syafruddin M. Hum.

Selasa, 07 Februari 2012

“Meriahnya Imlek di Yogyakarta dengan Festival Naga Barongsai”


Salah satu atraksi yang ditampilkan apik oleh "Lung Shen Hwee" dari Salatiga pada puncak acara Dragon Festival (6/2/2012). Festival ini merupak pertama kalinya diadakan di Indonesia, bertempat di sepanjang jalan Malioboro-Ahmad Yani yang digelar untuk menyambut hadirnya tahun Naga Air bagi kepercayaan Tionghoa. (foto/prasetya yudha)



Perayaan imlek di kota Yogyakarta yang dimulai dari tanggal 2-6 Februari 2012 malam ini mencapai puncak, dengan menghadirkan 10 barongsai dari beberapa daerah, diantaranya Salatiga, Kebumen, Semarang, dan Yogyakarta. Acara yang dinamai Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY)  ke-VII 2012 mengangkat tema “Mengukuhkan Kebhinekaan Yogyakarta” ini dimulai pukul 6 sore dan berakhir tepat pukul 8 malam. Seluruh warga melebur menjadi satu di sepanjang jalan Malioboro-Ahmad Yani, yang mengambil start di Taman Parkir Abu Bakar Ali dan finish di Tititk Nol Kilometer.


Sebelumnya, acara yang terpusat di Jalan Ketandan, tepatnya di sepanjang gang yang bertempat di sebelah Mall Ramayan ini menyajikan berbagai macam acara, mulai dari tari-tarian kolaborasi Didi Nini Thowok, band, sulap, karaoke, hingga ketoprak yang diadakan di panggung utama.


Festival Naga Barongsai ini adalah yang pertama kali diadakan di Indonesia. Menurut salah satu panitia, acara ini diselenggarakan untuk menyambut tahun naga air yang jatuh pada tahun 2012. Festival yang memperebutkan hadiah total sebesar 27 juta ini berlangsung sangat meriah. Tak heran jika ada beberapa orang yang terpancing emosinya saat petugas meminta mereka tidak keluar dari batas yang sudah disiapkan. Adapula seorang fotografer yang sempat memaki seorang petugas yang berniat untuk menyelamatkannya dari riuhnya barongsai yang cukup besar dari pasukan ‘Naga Doreng’ Yon Arhanud SE-15 Kodam IV Diponegoro dengan pasukan pembawa Liong sebanyak 9 orang.


“Awas, minggir-minggir, sepatune gede lho, berdiri semua”, salah satu kalimat petugas yang berjaga mengamankan lancarnya atraksi dari pemain urutan ke-8 itu. Berdesakan di acara yang super meriah dan tak ada pengamanan khusus untuk para lansia dan anak-anak ini sungguh sesuatu yang menyedihkan di tengah riuhnya penonton yang tak kenal umur. Banyak pula orang tua yang sengaja menyuruh anak-anak mereka berdiri di depan agar dapat melihat dengan jelas atraksi yang ditawarkan.  Jika diperhatikan, semestinya para orang tua tidak membiarkan anak-anak mereka berada di depan, karena tak menutup kemungkinan bahwa acara tersebut akan memakan korban jika mereka lengah menjaga anak-anak mereka.


Tak hanya liong yang ditampilkan dalam acara itu, namun dihadirkan juga para penari dengan busana putih berbalut sifon dan lampu-lampu bercorak hijau dan menarikan tarian kipas dipandu oleh penari lelaki yang berdandan wanita menggunakan rambut pasangan berwarna.


Bahkan Bregodo Lombok Abang dari Keraton juga ikut menghiasi hiruk pikuk perayaan imlek tahun ini. Dibalut topi khas bergaya lombok merah, para bregodo tampak menghayati setiap langkah mereka, meskipun terdengar sangat kontras musik yang mereka mainkan dengan musik dari para pemain barongsai.


Kemeriahan imlek di Yogyakarta tak berhenti sampai disitu, adapula naga barongsai terpanjang yang dimiliki Yogyakarta dengan panjang lebih dari 130 meter yang dibawakan oleh 200 pasukan dari Yonif 403 Yogyakarta. Penampilan Naga Liong terpanjang ini mengalami kesulitan saat akan beraktraksi. Hal ini dikarenakan beratnya Naga dan sempitnya tempat yang akan digunakan untuk menunjukkan aksi-aksi indahnya. “Ya, Tuhan, gede banget”, ujar salah satu penonton yang terperangah melihat besarnya Liong yang dibawakan oleh para TNI tersebut di pinggir pagar.


Memang, perayaan imlek setiap tahun mengalami peningkatan, baik dari sajian, maupun penonton. Hal ini disebabkan sejak tahun 1999, larangan tentang adanya segala jenis perayaan bagi kaum minoritas, dalam hal ini adalah etnis Tionghoa oleh pemerintahan Soeharto resmi dihapuskan dengan keputusan Gus Dur yang saat itu baru 10 hari menjabat sebagai Presiden RI. Sejak saat itu pula, berbagai jenis acara yang berbau etnis sering terdengar publik, tak luput juga ‘Imlek’, yang merupakan tahun baru untuk tanggalan Cina.


Selain untuk memperingati lahirnya tahun naga air, dilihat dari temanya, acara ini juga bertujuan untuk menyatukan keberagaman budaya di kota Yogyakarta. Seperti yang kita tahu, Yogyakarta merupakan kota istimewa dengan berbagai macam kebudayaan dan perbedaan menjadi satu. Tak peduli dari suku mana dan berbahasa apa, Yogyakarta tetap mampu menyatukan dan menerima mereka untuk hidup rukun dan damai di tanah istimewa ini.




Kamis, 29 Desember 2011

Nepal dalam Matatita (Kathmandu Through My Eyes)

"Om Mani Padme Hum" adalah kalimat pertama yang saya perhatikan ketika melihat foto karya Matatita, seorang etnofotografi lulusan antropologi UGM. Kalimat tersebut merupakan mantra meditasi dengan media roda (prayer wheel). Sore tadi saya berkesempatan untuk melihat pameran foto dan mengikuti diskusi langsung bersama Matatita di Sangam, sebuah restoran kecil gaya India di KM 5,6 utara Jogja. Foto-foto Matatita diambil menggunakan kamera pocket dan kamera hape, yang ia ambil pada bulan April 2009. Ia yang bukan orang fotografi lebih suka mengambil gambar berupa living culture. Dalam perjalanan ini, ia mengumpulkan sekitar seribu jepretan atau sekitar 8gb.

Selain prayer wheel, terdapat juga foto dengan judul 'prayer flags', bendera doa yang diyakini membawa kebahagiaan, kesejahteraan, umur panjang, dan kemakmuran. Bendera ini terdiri dari 5 warna mewakili 5 elemen dasar, diantaranya kuning sebagai bumi, hijau sebagai air, merah api, putih udara, dan biru melambangkan ruang. Kelima warna tersebut dapat menyeimbangkan unsur eksternal membawa harmoni dalam lingkungan serta faktor internal yang membawa kesehatan bagi tubuh dan pikiran. #Boudhanath.

Kathmandu, sebuah kawasan dengan nama lain Nepal ini memiliki banyak kisah selain Everest dan Himalaya, salah satunya adalah terdapat stupa terbesar di dunia. Uniknya, stupa ini dibersihkan atau dimandikan tidak menggunakan air, melainkan butter (mentega) yang dilelehkan. Pertanyaannya adalah, berapa banyak mentega yang digunakan untuk memandikan stupa raksasa tersebut? Well, silahkan kalian bayangkan sendiri :D

Bhaktapur, suatu tempat dengan keunikan bangunan yang menggunakan batu-bata untuk seluruh jalanannya dan rumah-rumah dengan jendela penuh ukiran detail, serta atap-atap berwarna merah menjulang tinggi. Yaah, inilah tempat dimana keunikan lebih banyak diterangkan dalam pameran foto kolaborasi Matatita dan suaminya Eduardo A. Wibowo, yang juga menggemari etnofotografi. Di sini juga memiliki budaya yang berbeda dalam merayakan tahun baru, yang disebut Bisket Jatra / festival carriot, yaitu tarik-tarikan kereta antara dua kampung, dimana kereta yang telah disediakan ditarik ke dua arah yang berlawanan sampai pada titik yang sudah ditentukan, sehingga terlihat jelas tujuannya adalah siapa yang kuat, dialah yang menang. Setelah acara tarik-menarik kereta selesai, mereka melanjutkannya dengan lempar batu. Siapapun boleh melempar, dan yang terkena lemparan batu juga tidak boleh marah, karena ini juga bagian dari acara tersebut.

Nepal merupakan kota yang sama sekali bukan acuan untuk mencari ketenangan. Kroditnya mungkin berpengaruh pada kendaraan yang digunakan sehari-hari, termasuk mobilnya yang dikenal imut-imut :D Di kota ini juga sangat nampak jelas bentuk rumahnya yang mirip dengan rumah-rumah di kawasan Tamansari yang saling sambung menyambung dimana di dalamnya terdapat lapangan. Mungkin ini merupakan ciri rumah keraton :D Ada datu gambar yang menggelitik dari hasil jepretan Matatita, yaitu beberapa bapak-bapak lansia yang sedang asik nongkrong bersama kawan sebayanya. Aneh, karena kebanyakan yang suka kongkow kan anak muda, ini malah aki-aki. Nggak cuman itu, tapi juga ada dimana terdapat komposisi saat beberapa wanita sedang mencuci di depan rumah orang yang memiliki aliran air dan satu orang wanita lain berjalan persis di depan mereka tanpa bertegur sapa. Sangat kontras.

Untuk foto-fotonya bisa dilihat di pameran yang berlangsung sampai 5 Januari dan ditutup dengan workshop "Membaca Foto" di Sangam :) Selamat menikmati sajian mata :))
cc: http://www.matatita.com/

Misa Natal 2011, gereja paroki Ganjuran, Bantul, Jogja

Beberapa waktu lalu, bertepatan dengan Misa Natal, saya bersama Prasetya Yudha Dwi Sambodo bertandang ke Ganjuran, salah satu gereja paroki bergaya unik dengan arsitektur jawa punya dan terbuka di kawasan Bantul, Jogja. Gereja paroki yang dipimpin oleh pastur atau romo ini memiliki sisi realigius yang pekat, selain dari arsitekturnya yang banyak bunda Maria (perawan Maria), juga telah dipersiapkan goa natal dari panitia khusus untuk pesta natal ini.

Pagi itu saya clingak-clinguk nggak jelas mau gimana. Bayangin aja, saya menjadi POI (Point Of Interest) dengan kerudung menempel disebagian tubuh. Awalnya malah saya berpikiran negatif, takut mereka mengira saya terorist, hahaa.. Selama masih ada papa, saya juga ikut meramaikan natal bersama keluarga papa yang semuanya berbudaya China dan  beragama non muslim, tapi untuk ritual misa-nya baru kali itu. "Pagi ini misa natal khusus anak-anak, yang dewasa sudah kemarin sore jam 4 untuk yang bahasa Jawa, dan jam 8 malam untuk yang bahasa Indonesia", ungkap Agustinus Suryo Nugroho, salah satu panitia acara tersebut yang menghampiri saya tiba-tiba. Saya yang kaget tiba-tiba dihampiri dan ditanya darimana tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengetahui lebih tentang prosesi sakral yang biasa disebut Ekaristi ini. Perayaan ini juga dimeriahkan drama teatrikal oleh adik-adik dari panti asuhan Santa Maria, yang berjudul "Amen dan Tiga Raja".

Agustinus juga menjelaskan untuk acara misa seperti ini, di seluruh dunia akan sama mulai awal acara, doa, serta tata caranya, karena ternyata sudah ada buku yang menjelaskan semuanya. "Mau kita natal di Arab pun dengan bahasa Arab, tetap saja artinya sama dan tata caranya sama", imbuhnya. Natal kali ini bertema "Tinggal Dalam Kristus Memiliki Terang Hidup".

Misa natal tahun ini gereja katholik Ganjuran dipimpin oleh pastur Agustinus Suryo Nugroho pr, yang kebetulan memiliki nama yang sama dengan salah satu panitia yang sempat saya wawancarai. Romo Ag. (singkatan dari nama baptis Agustinus) ini juga study di Mesir jurusan Islamologi. Entah bagaimana ceritanya seorang pastur mengambil jurusan yang bisa dibilang agak ekstrim, tapi tak masalah, karena bukankah semua agama mengajarkan tentang kebaikan?

Acara misa natal pun usai tepat pukul 10.00 dan ditutup oleh hujan deras dipenjuru gereja. Saya pun akhirnya memutuskan untuk menunggu hujan reda sambil melihat-lihat sebagian arsitektur gereja, dan nggak sengaja melihat mbak-mbak keluar gereja dan mampir ke sebuah penampungan air di salah satu tempat di depan gereja. Ia mengambil sebagian air kemudian membuatnya menjadi bentuk salib ke tubuhnya sambil kemudian berdoa. Mungkin semacam air suci, tapi anehnya, air itu berada di depan gereja yang pasti akan terkontaminasi air hujan, tapi yang saya lihat, air itu tenang tak bergeming, meski disentuh.

Lama menunggu hujan reda, Agustinus mendekati kami yang sedang menikmati keindahan gereja, kemudian ia mengajak kami untuk makan bersama di dalam gereja. Betapa kagetnya saya (yang memang lapar), tanpa pikir panjang kami pun mengikuti, dan tettoott, makanannya ayam goreng :( sediiihh, karena saya nggak bisa makan ayam :( selesai makan, kami memutuskan untuk menerjang hujan karena harus segera mengejar 'cerita-cerita' yang lainnya.

Ini sedikit cerita saya tentang Misa Natal pertama :D
*fotonya nyusul deh yah :D



Rabu, 28 Desember 2011

"Doctor Honoris Causa Sri Sultan Hamengku Buwono X"

Selasa, 27 Desember 2011 mungkin merupakan hari yang bersejarah untuk beberapa orang, termasuk saya, karena masih diberi kesempatan untuk melihat secara langsung prosesi penganugerahan gelar pendidikan Sri Sultan Hamengku Buwono X, Bandoro Raden Mas (BRM) Herdjuno Darpito sebagai Doctor Honoris Causa di bidang seni pertunjukan yang merupakan pertama dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Menurut Wikipedia, Gelar Honoris Causa (H.C) / Gelar Kehormatan adalah sebuah gelar kesarjanaan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi/universitas yang memenuhi syarat kepada seseorang, tanpa orang tersebut perlu untuk mengikuti dan lulus dari pendidikan yang sesuai untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya tersebut. Gelar Honoris Causa dapat diberikan bila seseorang telah dianggap berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia. 


Gelar Doktor Kehormatan tercatat pertama kali diberikan kepada Lionel Woodville sekitar tahun 1470 oleh Universitas Oxford, Inggris. Ia kemudian dikenal sebagai Uskup Wilayah Salisbury/Bishop of Salisbury. Pada awalnya, pemberian gelar Doktor Kehormatan ini dianggap sebagai sesuatu hal yang tidak biasa. Pemberian gelar Doktor Kehormatan ini mulai dianggap biasa sekitar abad ke-16, khususnya pada masa-masa ketika banyak universitas-universitas yang belum tenar pada saat itu, menerima kunjungan kehormatan dari universitas-universitas ternama seperti Universitas Oxford atau Universitas Cambridge. Pada waktu kunjungan James I ke Universitas Oxford pada tahun 1605 misalnya, 43 dari rombongan beliau (15 diantaranya merupakan golongan bangsawan tinggi dan ksatria) mendapatkan Gelar Kehormatan Master of Arts dari Universitas Oxford dan mereka tercatat sebagai yang memiliki kesarjanaan penuh.


Seseorang yang telah menerima gelar Doktor Kehormatan, mendapatkan hak yang sama seperti para penerima gelar yang lainnya misalnya, dapat mencantumkan tanda kedoktorannya pada awal nama (Dr. xxx), namun khusus untuk yang menerima gelar Doktor Kehormatan, dapat mencantumkan tanda khusus Doktor Kehormatannya dengan singkatan H.C (Dr. H.C xxx).

Begitulah sedikit yang saya tau tentang gelar yang diberikan kepada Sri Sultan HB X. Sebelumnya, beliau juga mendapatkan gelar serupa di bidang kemanusiaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dalam acara pengukuhan tersebut, saya terlibat dalam choir ISI Yogyakarta. Pengalaman itu adalah yang pertama sejak saya bergelut di dunia musik. Bernyanyi di depan pejabat penting di wilayah Jogja, apalagi Sultan dan keluarga, wedew, kikukk bukan main awalnya, tapi lama-lama malah ketagihan, wkwkwwk.. Nggak cuma choir saja yang meramaikan pesta kemarin pagi, tapi juga orkestra dari teman-teman musik dan karawitan ISI Yogyakarta. Tak lupa tari kebangsaan "Saraswati" yang merupakan tari favorit saya. Selama mengikuti choir untuk acara semacam ini, tari ini tidak pernah membuat saya menutup mata saat beraksi. (Selain penarinya cantik-cantik, gerakannya lembut dan tak membosankan).

Nahh, yang beda, kali ini dihadirkan juga tari "Bedaya Sang AmurwaBumi" ciptaan Sri Sultan HB X. Kalau boleh jujur, saya merinding saat melihat dan mendengar musik pengiringnya. Serasa berada di dongeng Majapahit, hehe.. Tarian ini dibawakan oleh sembilan wanita cantik dan empat wanita lain sebagai 'pengantar', dimana diantara sembilan penari itu, salah satunya adalah putri Sultan, GRA Nurmalita Sari / GKR Pembayun.


Tari Bedaya Sang AmurwaBumi

Foto bersama keluarga setelah pengukuhan

Tari Saraswati

*maaf untuk foto-fotonya mungkin agak sedikit membuat mata pedes. Mohon dimaklumin yah, pake kamera hape nih:D