Senin, 22 September 2014

Laut dan Gunung #1

Bagaimana bisa aku, mengalihkan pandanganku untuk melewatkanmu, yang begitu mendekati sempurna.
Bukan hanya tentang bagaimana kamu denganku, tapi juga kamu dengan yang lain.

Melihatmu lagi, sore itu, didepan mimbar, membawakan kedewasaan yang tak dimiliki mereka seusiamu.
Memperhatikan setiap gerak dan tawa yang selalu merekah di setiap pertanyaan dari anggotamu.
Ahh, perasaan ini, yang diam-diam terus memikirkanmu. Sudah lama, mungkin sejak kita masih di tempat yang sama.
Caramu memperlakukan yang lain, makin membuat perbedaan itu tak nampak.
Aku selalu suka memperhatikanmu dari jarakku.
Dari jarak yang begitu jauh, tapi benar-benar terasa dekat.
Mendoakanmu, meski dengan cara berbeda.
Katanya, mencintai diam-diam itu romantis. Ia adalah cinta sejati yang tak terungkap.
Aku hanya berharap itu benar, sampai saatnya nanti, kita tidak dipisahkan karena perbedaan ini.

Untukmu, yang sudah lama selalu kuperhatikan.
Yang rela menunggu, meski menyakitkan.
-laut dan gunung-
Surabaya, 22 September 2014

Sabtu, 20 September 2014

*9

Tak sedikit orang memiliki angka membahagiakan bagi hidupnya.
Dan aku memilih 9 sebagai moment terindah.

9 yang selalu kurindu,
9 yang selalu ada disetiap doa,
9 yang tak pernah melewati batas normal,
9 yang selalu menjaga hati yang sedang tak nyaman,
9 yang bisa merenggut sayang setiap orang disekelilingku,
9 yang rela memberikan setiap waktunya demi orang yang disayangnya,
9 yang tak pernah lelah mengingatkan, bahwa kita disatukan atas ijinNya,
9 yang tak pernah berpikir untuk berjauhan, meski jarak terus mengusik,
9 yang bertahan pada lamanya waktu,
9 yang masih membekas, dan mungkin tak pernah bisa hilang!

Dengan siapapun kita, semoga bahagia selalu menyertai :)
Tentang siapa yang terbaik, semesta pun tau, siapa jawabnya :)))

-Surabaya-

Senin, 08 September 2014

Tanpa Judul


Pernah ada perbincangan yang meronta dalam imajii.
Co: "Apakah sayang terlihat dari seberapa banyak ia berkata AKU CEMBURU?"
Ce:  "Emm,, mungkin.."
Co: "Kalau begitu, boleh aku bilang sedang cemburu?"
Ce: "Have you a reason?"
Co: "Aku juga tak tau, karena hatiku selalu berkata bahwa aku sedang tak baik akan dirimu."
Ce: "Tapi aku sedang baik."
Co: "Iyah, aku sadar, tapi bolehkah aku cemburu?"
Ce: "Boleh."
Co: "Apakah kau tak merasakan hal yang sama?"
Ce: "Yah, sering, jauh sebelum kau bilang, aku juga merasakannya."
Co: "Lantas, kenapa tak kau katakan?"
Ce: "Apakah menurutmu aku lebih mementingkan rasa cemburuku daripada percayaku yang teramat kepadamu?"
Co: "... "
Ce: "Aku mencintaimu, sayang, tapi aku juga tak bisa bersikap bahwa kau HANYA milikku, tanpa memikirkan kau akan bersama yang lain, disekelilingmu."
Co: "Maafkan aku.."
Ce: "Untuk apa?"
Co: "Untuk selalu kurang percaya karena cemburuku."
Ce: "Hanya sebuah garis dari rangkaian gambar yang pernah kita buat, ketika garis itu menghilang, tak akan ada gambaran sempurna, sayang."
Co: "Aku mencintaimu dengan jantungku"
Ce: "Dan aku pun menyayangimu dengan hidupku."

Melepasnya dengan pelukan tak bersyarat, hangat, dan menenangkan :)

Ketika otak meracuni segala canda dan haru yang ada, kekecewaan menguasai segala bentuk kebahagiaan. Sampai ketika saat itu tiba, dan aku harus meninggalkanmu.

"Maaf sayang, bukan ku menyembunyikan beberapa detikku darimu, tapi aku hanya tak ingin kau merasa khawatir dengan segala keadaanku. Saat kau membacanya, mungkin aku sudah berada tenang dikedalaman mimpimu dan bersamaNya. Aku hanya bisa berharap akan ada penerus kebahagiaan kita, kelak."

Yours,
Wanitamu

Minggu, 07 September 2014

Akhir!

"Aku adalah apa yang pernah ada di masa lalu. Begitupun kamu."

Setiap kita pernah melewati rangkaian cerita yang entah terbungkus tawa, tangis, bahagia, rindu, ataupun sebagainya. Kita tak bisa mengelak bahwa masa lalu adalah apa yang membuat kita berdiri, saat ini, berteman dengan segala latarbelakangnya.
Sebagaimanapun kita berusaha menghilangkan jejaknya, ia tak akan pernah benar-benar terhapus.
Layaknya kertas putih yang ingin kita isi dengan berbagai warna.
Warna yang ingin diabadikan dalam setiap moment hidup kita masing-masing. Setelah terisi, tak mungkin ia kembali seperti semula. Sekuat apa kita menghapusnya, akan tetap membekas, membawa ingatan yang dalam hati kecil sebenarnya masih ingin kita kenang.

Sebatas mengenang, tak bermaksud yang lain. Karena, sekali lagi, sekuat apa kita mencoba bertahan, semua akan bertemu pada titik yang sama, bahwa kita tidak disatukan Tuhan. Ia sudah menyiapkan rencana lain untuk kita "bahagia"! Dan cara ampuh yang paling susah adalah IKHLAS.
Mengikhlaskan perjuangan, yang pada akhirnya hanya menyakiti masing-masing dari kita.

Sekarang bukan saatnya bermain di halaman yang sama.
Bukan waktu yang tepat untuk terus menghakimi diri karena kesalahan masa lalu ataupun perjuangan yang sia-sia.
Menatap ke depan dengan selalu memohon untuk kita selalu bahagia dengan pilihan masing-masing dan juga membahagiakan apa yang menjadi pilihan kita!
Kamu adalah masa lalu terbaik yang pernah ada di rangkaian cerita hidupku, tapi ia, adalah masa depan terbaik yang Tuhan kirim untuk mengisi ruang yang telah lama terluka :')

Kita memang pernah ada, bukan berarti kita akan terus ada :')
Selamat tinggal kenangan, semoga Tuhan selalu mempertemukan kebaikan dan kebahagiaan untuk kita semua :'))